| |
Bali Age, Bali Majapahit, Setelah kurang lebih tujuh abad, terjadi mengembang biakan (hibriditas)identitas orang Bali. Dalam hibriditas identitas itu terjadi konflik dan integrasi sosial. Konflik dan integrasi sosial bersifat elastis dan fluktuatif, seperti "gelang karet". Dalam kurun waktu tertentu, rumusan pembeda identitas menjadi sedemikian renggangnya hingga menimbulkan konflik. Namun dalam konjungtur waktu yang berbeda, sebuah pembeda identitas tidak relevan lagi dan merumuskan pembeda yang baru. Misalnya, Kini orang Bali berbicara tentang "kehilangan Ke-Balian" untuk menegaskan posisi mereka berhadapan dengan kepentingan ekonomi-politik luar Bali. Akibatnya, pembeda identitas lain yang pernah ada seperti Bali Age-Bali Majapahit dan identitas Kewangsaan menjadi pudar. Dan rumusan menjadi orang Bali menjadi sumber integrasi sosial. Di sini kita bisa melihat bahwa identitas di Bali memenuhi fungsinya yang instrumentalis.
Identitas dalam Sejarah
Secara historis, identitas orang Bali berkembang menjadi beberapa kategori pembeda. Pertama, identitas Bali Mula dan Bali Majapahit. Dimulai sekitar tahun 1350 Masehi ketika Sri Kresna Kepakisan, pemegang kuasa Majapahit atas Bali, mengukuhkan identitas sosial baru. Wong Majapahit, yang membedakan dengan identitas penduduk lokal Bali sebelumnya, yang disebut Wong Age (Bali Age). Identitas itu memberi pembeda dalam lapangan kebudayaan, agama dan politik sampai saat ini.
Secara geokultural, orang-orang Bali keturunan Majapahit tinggal di daerah Bali dataran yang berlimpah dengan air. Sehingga, mereka mengenal sistem pengairan (subak) dan juga menganut sistem apanage. Secara politis, orang Bali dataran lebih memilih sistem kepemimpinan tunggal dan monolitik. Mereka mengenal Puri dan Grya sebagai pemegang otoritas ekonomi-politik dan kultural. Sebaliknya, orang Bali Age tinggal di wilayah pedalaman yang berbukit-bukit. Secara ekologis, mereka sangat tergantung pada alam dan sumber daya hutan. Secara politis, mempunyai sistem sosial yang komunal dan kepemimpinan kolektif.
Kedua, sejalan dengan tegaknya kekuasaan Majapahit di Bali maka lahir pembeda lain yang didasarkan atas identitas kewangsaan yaitu antara tri wangsa dan jaba wangsa. Pembeda identitas kewangsaan ini asal usulnya bisa dilacak dari dua doktrin keagamaan Hindu-Majapahit: doktrin dewa raja dan doktrin wangsa. Dalam doktrin Dewa-raja, raja dan ksatrya wangsa (negara) merupakan representasi daulat kekuasaan kedewaan. Sehingga, identitas kewangsaan itu memikul tugas "suci" menegakan kekuasaan kedewaan dengan membangun tertib sosial dan moral. Dalam doktrin ini tatanan masyarakat dibayangkan seperti tubuh manusia (organic), yang mempunyai kepala, badan, kaki dan tangan. Setiap elemen dalam tubuh manusia mempunya fungsi dan tugas sendiri-sendiri. Walaupun demikian, kepala dianggap sebagai organ yang utama. Paham tentang tubuh manusia ini lalu diturunkan ke dalam tatanan sosial. Implikasinya, lahir stratifikasi dan hieraki sosial. Konsekuensi pemahaman doktrinal keagamaan seperti itu mengakibatkan tata sosial-politik di Bali di masa lalu menempatkan "linggih" dan "sor-singgih" menjadi sangat sentral. "Linggih" dan "sor-singgih" lalu diterjemahkan ke dalam struktur kebahasaan yang hierarkis (sor-singgih base), perbedaan gaya hidup (nganutin antuk linggih) maupun sakralisasi status sosial.
Ketiga, disintegrasi kekuasaan Gelgel pada tahun 1700 yang diikuti oleh masuknya kolonial pada tahun 1908 memunculkan pembeda identitas yang bersendi pada sikap orang Bali pada republik: golongan reaksioner dan republiken. Identitas ini berkembang pada masa revolusi (1945-1950). Saat itu, kekuasaan politik masih berada di tangan Dewan Raja-raja. Kekuasaan mereka mendapatkan legitimasi dari NICA yang datang ke Bali setelah kekalahan Jepang. Untuk mengukuhkan kekuasaannya, beberapa raja kemudian membentuk gerakan yang disebut gerakan reaksioner. Mereka juga membentuk milisi sipil yang direkrut dari kalangan pemuda. Milisi ini dibentuk untuk menghadapi pejuang gerilya pro republik. Pejuang pro republik ini kemudian disebut golongan republiken.
Kapitalisme Pariwisata dan Kebalian
Pembeda yang keempat adalah identitas Ke-Balian. Gejala menguatnya identitas Ke-Balian ini bisa dimaknai dalam tiga kategori. Pertama, ia muncul sebagai instrumen resistensi dari aktor-aktor (agency) lokal terhadap berbagai proses sosial-ekonomi-politik yang terjadi di Bali. Kedua, sebagai invensi dari modernitas dan Negara. Ketiga, antara resistensi dan invensi saling menguatkan identitas Ke-Balian.
Sebagai invensi modernitas, Ke-Balian muncul sebagai kreativitas aktor-aktor modern memanfaatkan tradisi untuk mengakumulasi kapital (modernitas). Hal yang sama dilakukan oleh Negara yang memanfaatkan tradisi untuk kepentingannya pembangunan, pertumbuhan ekonomi, stabilitas dan sebagainya.
Sebagai bentuk resistensi fenomena penguatan Ke-Balian merupakan reaksi terhadap kehadiran dua kekuatan yaitu rezim modernitas dan proses negaraisasi. Rezim modernitas mempunyai kekuatan mengontrol individu dalam komunitas untuk memenuhi standar kehidupan modern melalui berbagai proyek pendisiplinan. Modernitas kemudian membawa apa yang disebut homogenisasi "taste of culture" yang meniadakan keunikan dan keberbedaan. Dalam konteks inilah identitas digunakan untuk melakukan penolakan "penyeragaman" oleh modernitas.
Selain itu, identitas Ke-Balian merupakan reaksi atas perubahan konfigurasi ekonomi-politik akibat Kapitalisme Pariwisata. Intensifnya perkembangan pariwisata di Bali sejalan dengan menurunnya kemampuan Negara sebagai motor penggerak ekonomi pasca oil boom, mendorong munculnya gelombang migrasi dari daerah-daerah di luar Bali. Berbeda dengan pola migrasi pada masa Gelgel dan kolonial, kehadiran migran dalam konteks pasca kolonial lebih didorong oleh rasionalitas ekonomi yang bertemu dengan logika kapitalisme-pasar. Kalangan migran baru ini mempunyai sejumlah rasionalitas ekonomi sebagai alasan utama untuk berpindah ke Bali.
Dari Pertukaran menuju Kompetisi
Kehadiran pendatang dapat dipastikan menimbulkan perubahan konfigurasi demografik di Bali. Bali yang dulu dikenal sebagai daerah homogen kini menjadi heterogen, terutama di kawasan pariwisata. Kehadiran pendatang juga menimbulkan pergeseran pola relasi pendatang-pribumi, dari hubungan pertukaran menjadi relasi yang kompetitif. Pergeseran ini terjadi ketika perkembangan pariwisata membawa ketimpangan antara lapangan kerja yang tersedia dengan jumlah pencari kerja. Di beberapa sektor ekonomi, kehadiran tenaga kerja pendatang memang menjadi komplementer (muncul exchange) karena kelangkaan tenaga kerja lokal yang masuk ke sektor ekonomi itu. Namun, sebagian besar sektor-sektor ekonomi menjadi arena kompetisi antara penduduk lokal dan pendatang. Dalam ruang ini, orang Bali bersaing dengan orang Jawa, Sumatera dan sebagainya untuk memperebutkan lapangan kerja.
Kompetisi tidak hanya terjadi dalam perebutan lapangan pekerjaan, melainkan juga dalam kompetisi antar pemodal dan kelas menengah profesional. Kaum kapitalis lokal bersaing dengan pemodal dari luar Bali. Sedangkan kaum profesional Bali juga harus menghadapi persaingan dengan kaum profesional dari luar Bali.
Selain membangun kompetisi ekonomi, perkembangan kapitalisme di Bali juga mengukuhkan prasangka etnis di bidang ekonomi. Logika kapital yang lebih memperhatikan keuntungan ekonomi mendorong kaum kapitalis, baik orang Bali maupun orang non Bali, untuk mendapatkan tenaga kerja yang bisa dibayar murah serta tidak merugikan akumulasi kapital. Pilihan mencari tenaga kerja murah menyebabkan kaum pemodal kemudian lebih "melirik" tenaga kerja pendatang, karena umumnya mereka mau dibayar lebih murah.
Selain itu, pilihan terhadap tenaga kerja pendatang juga dilakukan atas prasangka etnisitas: karena tenaga kerja Bali dianggap "banyak libur". Streotipe ini muncul ketika orang Bali harus terlibat dalam kegiatan adat (ayahan ke Banjar dan Desa Adat) dan keagamaan (hari raya keagamaan). Konsekuensi logisnya, kapitalis lebih diuntungkan bila merekrut tenaga kerja pendatang dibandingkan dengan tenaga kerja lokal.
Kompetisi ekonomi, baik di level pemilik modal maupun tenaga kerja, menimbulkan fenomena menguatnya ethnosentrisme orang Bali yang nampak dari persepsi tentang ancaman terhadap identitas Ke-Balian dari kalangan pendatang. Keterancaman ini tidak saja dalam hal perebutan sumber-sumber ekonomi melainkan juga masuk ke domain kultural-spritual. Kehadiran pendatang dianggap "melunturkan atau bahkan menghancurkan" sendi-sendi budaya, adat dan agama orang Bali. (A.A.G.N. Ari Dwipayana) source @ http://pasektangkas.blogspot.com/2007/10/bali-age-bali-majapahit.html |
Bali Age, Bali Majapahit
20.10, Posted by simple, No Comment
Diskusi Bali Post (1) Jalan Layang, Solusi Jangka Pendek
08.59, Posted by simple, One Comment
Dari pendekatan keagamaan tak hanya merujuk soal tatwa. Di Bali masih ada pendekatan ritual, etika dan susila. Ritual tak hanya menyangkut soal perasaan juga berimbas kepada etika. Karena itu, Bali dalam jangka panjang tidak memerlukan jalan layang untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Tawaran jalan layang hanyalah terapi jangka pendek. Tawaran jangka pendek itu pun baru bisa dilaksanakan asalkan sudah bisa dicarikan solusi umat Hindu yang membawa pratima.
Dr. Ir. Tjokorda Raka Sukawati, IPM.:
Jalan layang sudah layak di Bali. Jika tidak demikian, tanah pertanian di Bali akan habis. Pasalnya, bukan hanya lahan pertanian yang dihabiskan untuk membuka jalan baru tersebut, tetapi dampak ikutan sebagai ekses dari dibangunnya jalan tersebut. Bangunan baru dengan cepat muncul sehingga lahan pertanian di sekitarnya cepat beralih fungsi.
I Dewa Gede Ngurah Swasta, S.H.:
Dibangunnya jalan layang akan membuat Bali semrawut. Bali tidak akan ada bedanya dengan Jakarta. Dari estetika, Bali sangat riskan dibangun jalan layang. Persoalan yang dihadapi Bali sesungguhnya masih bisa diatasi dengan mendisiplinkan aparat dan rakyat, konsistensi penerapan aturan perizinan membangun serta kesigapan aparat dalam melaksanakan aturan dan pengawasan.
Tawaran jalan layang untuk memecahkan kemacetan lalu lintas di Bali masih tetap memunculkan kontroversi. Dari segi teknologi dan kelayakan, jalan layang itu sudah layak dibangun di kawasan tertentu seperti di simpang-siur Kuta. Namun tetap dipersoalkan. Selain solusi jangka pendek, dari sisi estetika serta etika agama Hindu, hal itu juga bermasalah. Hal itu terungkap pada diskusi yang digelar Bali Post, Rabu (14/1) kemarin di Warung Beras Bali, Jalan Sahadewa nomor 26 Denpasar. Diskusi menghadirkan Ida Pedanda Gede Made Gunung, penemu teknologi jalan layang Sosrobahu Dr. Ir. Tjokorda Raka Sukawati, IPM., pengamat ekonomi Dr. IGW Murjana Yasa, S.E., M.Si., Nayaka Majelis Utama Desa Pakraman Bali I Dewa Gede Ngurah Swasta, S.H. dan Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Bali Ir. Ida Bagus Sidharta, M.T. Berikut rangkuman diskusi tersebut.
TAWARAN jalan layang kembali diapungkan untuk memecahkan masalah lalu lintas di Bali. Tawaran ini mengingat makin kroditnya lalu lintas di Denpasar dan Badung. Selain itu, juga laju pertumbuhan kendaraan yang cepat yang tak diikuti dengan pertumbuhan prasarana jalan yang memadai. Lebih-lebih adanya rencana memangkas perda yang mengatur tinggi bangunan. Kalau ini dilaksanakan tentu akan mengundang pendatang makin banyak ke Pulai Dewata ini. Akibatnya Bali akan makin sesak, krodit dan macet di mana-mana. Dari sejumlah titik kemacetan lalu lintas di Bali, bunderan simpang-siur dinilai paling macet. Karena itu pemerintah daerah menilai sudah layak dikaji jalan layang.
Tjokorda Raka Sukawati -- penemu Sosrobahu -- memandang jalan layang sudah layak di Bali. Jalan layang tak hanya dibangun di Jakarta, tetapi sudah melebar sampai di Filipina. Bahkan, 10 meter dari Pura Rawamangun di Jakarta sudah dibangun jalan layang. Jalan layang adalah jembatan yang dibuat di atas jalan baru. Lantas dibangun tiang beton seberat 480 ton. Di atasnya dibuat bidang sejajar dengan tiang tersebut baru badan jalan di atasnya. Pada tempat tertentu bisa diputar 90 derajat. Karena itu tawaran jalan layang disambut baik penemu Sosrobahu. Jika tidak demikian, tanah pertanian di Bali akan habis. Pasalnya, bukan hanya lahan pertanian yang dihabiskan untuk membuka jalan baru tersebut, tetapi dampak ikutan sebagai ekses dari dibangunnya jalan tersebut. Bangunan baru dengan cepat muncul sehingga lahan pertanian di sekitarnya cepat beralih fungsi.
Bagaimana dari sisi adat dan agama? Dari adat dan budaya, Bali memang unik. Karena keunikan tersebut, Bali mendapat beragam predikat yang menjadikan demikian terkenalnya. Bahkan, Hindu di Bali juga berbeda dengan India karena ada konten lokal adat dan budaya. Persoalannya ketika adat dan budaya terkoyak, dampaknya sangat luas terhadap pariwisata budaya dan ekonomi krama Bali. Karena itu, kajian jalan layang hanya menjadi pilihan alternatif yang masih perlu dikaji mendalam dan komprehensif.
Dari pendekatan keagamaan tak hanya merujuk soal tatwa seperti membangun jalan layang di dekat Pura Rawamangun, Jakarta. Di Bali masih ada pendekatan ritual, etika dan susila. Ritual tak hanya menyangkut soal perasaan juga berimbas kepada etika. Dari sisi ini, umat Hindu yang membawa pratima tak mungkin masulub di bawah jalan layang.
Karena itu, Bali dalam jangka panjang tidak memerlukan jalan layang untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. 'Tawaran jalan layang hanyalah terapi jangka pendek (short therapy) yang paling lama bisa bertahun sampai 30 tahun setelah itu macet lagi,' kata Ida Pedanda Gunung. Tawaran jangka pendek itu pun baru bisa dilaksanakan asalkan sudah bisa dicarikan solusi umat Hindu yang membawa pratima tak masulub di bawahnya.
Bagaimana dengan estetika apakah tak akan merusak keindahan alam Bali yang unik? Pandangan Dewa Swasta, bunderan simpang-siur kalau dibangun jalan layang di atasnya akan lebih semrawut. Apa yang menjadi kebanggaan wisatawan melihat alam Bali yang indah sesungguhnya tak akan terkesan seperti itu. Bali akan semrawut seperti Jakarta. Dari estetika, Bali sangat riskan dibangun jalan layang. Persoalan yang dihadapi Bali sesungguhnya masih bisa teratasi dengan mendisiplinkan aparat dan rakyat, konsistensi aturan perizinan membangun, kesigapan aparat dalam melaksanakan aturan dan pengawasan.
Lantas biang keladi dari kemacetan lalu lintas itu apa sesungguhnya? Ikuti bagian kedua dari tulisan ini, Jumat besok! (sua)
MAKNA PELINGGIH TAKSU DI MERAJAN
08.15, Posted by simple, No Comment
indriyebhyah param manah.
manasas tu para budhir
yo buddheh pratas tusah.
(Bhagawad Gita Gita IV.42).
Maksudnya:
Sempurnakanlah indriamu, tetapi kesempurnaan indria berada di bawah kesempurnaan pikiran, kekuatan pikiran berada dalam pencerahan kesadaran budhi. Yang paling suci adalah Atman.
MEMELIHARA kesehatan indria agar dapat berfungsi secara sempurna merupakan upaya hidup sehari-hari yang wajib dilakukan. Indria tersebut adalah alat untuk dapat kita merasakan adanya suka dan duka dalam kehidupan ini. Cuma indria yang sehat sempurna itu harus digunakan di bawah kendali pikiran yang cerdas. Kecerdasan pikiran itu dilandasi oleh kesadaran budhi yang bijaksana. Struktur diri yang demikian itulah yang akan dapat mengimplementasikan kesucian Atman dalam wujud perilaku.
Indria, pikiran dan kesadaran budhi yang mampu menjadi media kesucian Atman itulah yang menyebabkan orang disebut mataksu dalam hidupnya. Kata ''taksu'' berasal dari kata ''aksi'' artinya melihat. Melihat itu dengan cara pandang yang multidimensi itulah menyebabkan orang disebut mataksu. Melihat sesuatu tidak hanya dengan mata fisik saja. Pandangan mata fisik itu dianalisis oleh pandangan pikiran yang cerdas dan dipandang dengan renungan rohani yang mendalam. Cara pandang yang demikian itulah yang akan dapat melihat sesuatu dengan multidimensi. Penglihatan yang multidimensi itulah menyebabkan orang mataksu.
Tempat pemujaan sebagai Ulun Karang atau hulunya rumah tempat tinggal bagi umat Hindu di Bali umumnya disebut Merajan atau Sanggah Merajan. Di tempat pemujaan yang disebut Merajan Kamulan itu ada salah satu pelinggihnya disebut Taksu. Pelinggih Kamulan umumnya didirikan di leret timur dari areal Merajan hulu pekarangan. Pelinggih Kamulan itulah sebagai pelinggih utama. Sebutan lain dari Merajan tersebut adalah Kemulan Taksu atau juga disebut Pelinggih Batara Hyang Guru.
Menurut Lontar Purwa Bhumi Kamulan, Atman yang telah mencapai tingkat Dewa Pitara atau Sidha Dewata distanakan di Pelinggih Kamulan. Lontar Gayatri menyatakan orang yang meninggal rohnya disebut Preta. Setelah diupacarai ngaben rohnya disebut Pitara. Selanjutnya dengan upacara Atma Wedana barulah disebut Dewa Pitara.
Menurut Lontar Siwa Tattwa Purana ada lima jenis upacara Atma Wedana berdasarkan besar kecilnya upacara yaitu: Ngangsen, Nyekah, Mamukur, Maligia dan Ngeluwer. Setelah roh diyakini mencapai status Dewa Pitara inilah ada prosesi upacara yang disebut upacara Dewa Pitra Pratistha. Umat Hindu di Bali umumnya menyebutnya upacara Nuntun Dewa Hyang atau juga disebut Ngalinggihan Dewa Hyang di Pelinggih Kamulan. Karena itulah berbagai lontar menyatakan bahwa Pelinggih Kamulan sebagai stana Sang Hyang Atma.
Di leret utara dari areal tempat pemujaan Merajan salah satu pelinggihnya ada yang disebut Pelinggih Taksu. Karena itu tempat pemujaan Ulun Karang itu juga disebut Pelinggih Kamulan Taksu. Dalam Lontar Angastya Prana ada diceritakan bahwa saat jabang bayi ada dalam kandungan berada dalam pengawasan Dewa Siwa. Setelah ada sembilan bulan lebih jabang bayi tersebut ada dalam kandungan maka Dewa Siwa minta agar jabang bayi itu lahir ke dunia.
Diceritakan jabang bayi itu takut lahir ke dunia. Mengapa takut, karena hidup di dunia itu banyak penderitaan yang akan dialami. Ada angin ribut, ada gempa, ada gunung meletus, ada kelaparan, ada banjir, ada perang dan banyak lagi ada hal-hal yang membuat orang menderita. Atas jawaban jabang bayi itu Dewa Siwa menyatakan bahwa engkau tidak perlu takut hidup di dunia, nanti saudaramu yang empat itu akan membantu kamu mengatasi segala derita.
Untuk itu kamu harus minta bantuan kepada saudaramu yang empat itu yang disebut Catur Sanak. Catur Sanak itu adalah ari-ari atau plasenta, darah, lamas dan yeh nyom. Empat hal itulah yang melindungi dan memelihara secara langsung sang jabang bayi dalam kandungan ibunya. Kedokteran dapat menjelaskan secara ilmiah apa fungsi keempat unsur yang melindungi bayi dalam kandungan ibunya itu.
Diceritakan secara mitologi dalam Lontar Angastia Prana sang jabang bayi bersedia minta tolong pada Sang Catur Sanak. Permintaan jabang bayi itu disanggupi oleh Sang Catur Sanak dengan catatan agar setelah lahir ke dunia sang bayi tidak boleh lupa dengan dirinya. Dengan kesepakatan itu Sang Catur Sanak mendorong sang jabang bayi lahir ke dunia.
Setelah sang bayi dan Catur Canak sama-sama lahir ke dunia, keduanya mendapatkan perlakuan sekala dan niskala. Setiap bayi diupacarai secara keagamaan. Sang Catur Sanak pun ikut serta diupacarai. Nama Sang Catur Sanak berubah menjadi seratus delapan kali. Demikianlah sampai sang bayi meningkat dewasa, tua dan sampai meninggal.
Saat bayi baru lahir Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana nasi kepel empat kepel. Saat sudah meninggal roh atau Atman dipreteka dengan upacara ngaben, saat itu Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana beras catur warna. Sampai upacara Atma Wedana dan roh mencapai Dewa Pitara distanakan di Pelinggih Kamulan, maka Catur Sanak distanakan di Pelinggih Taksu. Karena itulah tempat pemujaan di Ulun Karang itu disebut Kamulan Taksu sebagai Batara Hyang Guru.
Dalam Vana Parwa 27.214 dinyatakan ada lima macam Guru. Atman adalah satu dari lima guru yang dinyatakan dalam Vana Parwa tersebut. Pendirian tempat pemujaan keluarga di Ulun Karang tempat tinggal adalah sebagai prosesi untuk menstanakan Atman sebagai Batara Hyang Guru dalam kehidupan keluarga inti bagi umat Hindu di Bali.
Dengan adanya Pelinggih Taksu sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam Merajan Kamulan inilah ada suatu nilai spiritual yang patut dipetik sebagai penuntun hidup di bumi ini. Dengan adanya Pelinggih Kamulan Taksu ini dapat dikembangkan suatu pandangan bahwa bagaimana konsep taksu dari sudut pandang Hindu dalam sistem budaya spiritual di Bali. Dengan konsep yang benar itulah kita jaga taksu Bali ke depan untuk menghadapi pergolakan kehidupan global yang semakin dinamis. * I Ketut Gobyah
sumber: BaliPost
Sanggama Sesana
20.11, Posted by simple, No Comment
Unteng tetuek sasuratan puniki jaga ngupeksa paindikan paos pertama sané kawastanin Panca Wida puniki. Paos pertama Sang Ametuwaken suksmannyané inggih punika i rerama minakadi mémé bapa sané ngardi i pianak saha maduluran upacara Pawiwahan. Kaon miwah becik kawéntenan i pianak nénten pasah ring parilaksana i reramé ri kala ngardi i pianak. Ri kala sang laki rabi ngardi pianak tan nganutin sanggama sesana, parilaksana punika sinalih tunggil sané ngawinang i pianak ri wekasnyané metu tan becik parilaksanannyané. Upaminnyané ngamargiang alaki rabi durung genep yusa.
Manut sakadi kakecap ring kakawin Nitisastra V.1; smara wisaya ruang puluhing ayusa. Suksman lengkara kakawin Nitisastra punika waluya pakéling ring para yowanané sami nénten kadadosan ngayurin indik alaki rabi sadurung mayusa langkung ring duang dasa tiban. Taler asapunika yadiastun sampun mayusa duang dasa tiban yéning durung puput utawi tamat masekolah tur durung madué pakaryan sané dados anggén pangupa jiwa taler tan kawenangan ngayunin alaki rabi nuju Grehasta Asrama. Punika mawinan yéning kantun Brahmacari Asrama tan kadadosang ngayunin indik smara wisaya. Ngayunin kémanten tan dados napi malih ngamargiang. Duh...
Ngamargiang sanggama krida (hubungan séks) kadadosan yéning sampun pascat nglaki rabi nganutin pidabdab upacara pawiwahan manut pawarah agama miwah hukum negara lan dresta sané mamargi ring jagaté. Sanggama krida ring sajeroning alaki rabi taler tan kadadosang ring Sanghyang Agama yéning tan nganutin sesana. Punika mawinan umat Hinduné ring Bali wénten pustaka lontar sané kawastanin Sanggama Sesana. Suksmannyané kadadosang ngamargiang sanggama yéning sampun alaki rabi nanging mangdané manut ring sesana anak ngamargiang sanggama sané kapatutang ring Sanghyang Agama.
Manut papineh Mahatma Gandhi, sanggama krida wantah kadadosang ring sang sampun alaki rabi yéning tetujonnyané ngardi pianak. Sanggama krida tan kadadosang yéning tetujonnyané tan ngardi pianak. Manawi papineh Mahatma Gandhi ring Kali Yuga puniki dahat ketil ngamargiang. Manut pitutur Tantrayana silih tunggil ajaran Hindu nyinahang sanggama wisaya (énérgi séks) punika dahat mautama. Sanggama wisaya punika ngawinang wénten pianak ngwetuang prati sentana. Semara wisaya punika taler ngardi seneng sang sané nglaksanayang sanggama krida ri sajeroning alaki rabi punika. Kasenengan masanggama punika ngardi seger wahya dyatmika (sehat lahir batin). Sanggama krida sané ngardi seger punika yéning sanggamané sané nganutin sesana. Yéning tan nganutin sesana ngamargiang sanggama punika ngwetuang lara roga tur dosa papa neraka yadiastun sajeroning alaki rabi.
Ring Bali, pustaka sané ngeninin pitutur Sanggama Sesana minakadi Lontar Smara Krida, Lontar Rsi Sambhina, Lontar Cumbana Sesana, Lontar Smaragama, Lontar Sanggama Sesana miwah sané sios-siosan. Lontar-lontar indik Sanggama Sesana punika ring jaman modéren puniki patut pisan katuréksa tur kapidabdabin malih mangdané alit-alité sané jaga nglanturang kauripané ring jagaté puniki tatas uning ring Sanggama Sesana. Sanggama sesana puniki tan ja indik satua jaruh-jaruh.
Manut tutur Sanggama Sesana piniki i manusa tan dados masaksi ring para déwa. Santukan prabawan Ida Sanghyang Widhi Wasa sané pinih utama kaapti ri kala ngamargiang sanggama inggih punika Ida Betara Semara miwah Déwi Ratih. Suksmannyané ngaptiang ida betara ri kala ngamargiang sanggama ri sajeroning alaki rabi mangda sang kalih tan lali ring kasucian sanggama punika. Mangda sang kalih marasa wénten saksi suci saking ida betara-betari ri kala ngamargiang sanggama. Punika mawinan manut ring lontar indik Sanggama Sesana setata wénten déwa miwah déwinyané yéning wénten patemuaning alaki rabi.
I Ketut Wiana
sumber Bali post
Paid Bangkung..? Why not...??
18.03, Posted by simple, No Comment
'Ngidih olas de kanti paid bangkung' (Minta tolong jangan sampai ketarik oleh induk babi betina), yang mengandung arti dan pesan; sebagai seorang lelaki Bali (baca; beragama Hindu) jangan sampai terpengaruh atau mengkuti keyakinan/agama pasangannya (pacar atau istri). Begitulah kira-kira istilah atau pesan yang sering didengar atau diucapkan oleh kalangan anak muda Bali yang berada di perantauan. Oleh mereka biasanya dipergunakan sebagai bahan guyonan ataupun peringatan kepada teman, sahabat atau siapapun yang berasal dari Bali.
Sebelum populer di luar Bali, istilah ini sudah berlaku bagi seorang laki-laki yang 'pekidih' atau 'nyentana' (laki-laki yang tinggal di rumah sang istri dan bertindak sebagai ahli waris). Atau sebagai bahan celaan bagi laki-laki yang terlalu nurut kepada pasangan atau istrinya.
Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin banyaknya masyarakat Bali yang merantau ke luar Bali, peruntukan istilah 'paid bangkung' juga mengalami pergeseran dan ditujukan kepada orang atau laki-laki Bali yang menikah kemudian pindah keyakinan mengikuti keyakinan sang istri.
'paid bangkung'...? adakah yang salah..?
Saya tergelitik untuk ber-opini mengenai istilah 'paid bangkung', setelah membaca selembar kertas yang tercecer di warung Bali areal Pura Rawamangun Jakarta, yang membahas dengan gaya bahasa anak muda...dan saya yakin mereka pastilah mahasiswa pelajar yang masih kuat memegang prinsip dan idealisme.
Tulisan tersebut mengulas tidaklah pantas atau tidak lazim jika seorang laki-laki Bali (baca; beragama Hindu) untuk pindah keyakinan mengikuti keyakinan pasangan hidupnya. Didukung pula pendapat dari pemuka agama ataupun pemuka masyarakat untuk menguatkan dan meyakinkan, mengapa 'paid bangkung' tidak lazim atau bahkan terlarang.
Dalam tulisan tersebut seolah-olah me-nabu-kan istilah 'paid bangkung' dengan perspektif sebatas hubungan sepasang manusia, entah berpacaran ataupun dalam ikatan perkawinan. Bahkan diwanti-wanti jika berpacaran beda agama harus kuat ke-dharma-annya. Jika dilanggar, maka secara moral dalam kehidupan bermasyarakat, mereka yang melanggar akan tersisih atau terbuang.
Apanya yang salah...?? Kenapa mereka tersisih atau terbuang..??
Jika konteks-nya mengenai kehidupan beragama Hindu ataupun mempertahankan keyakinan, adat-kebiasaan dan budaya Hindu Bali, saya sangat setuju. Karena kita dilahirkan sebagai manusia Bali yang beragama Hindu, wajib mempertahankan keyakinan kita karena itu adalah Dharma.
Sejak dalam kandungan ibu sampai dengan meninggal dunia manusia Hindu di-upacara-i secara Hindu-yang sudah menyatu dengan adat kebiasaan masyarakat Bali.
Sewaktu masih di-sekolah dasar saya diajarkan; bahwa kita lahir kedunia ini membawa hutang, yaitu hutang kepada Orang Tua yang melahirkan kita, hutang kepada Guru yang mengajarkan kita ilmu pengetahuan, hutang kepada Rsi atau pinandita yang menerangi jiwa kita dengan ajaran Dharma serta hutang kepada Sang Pencipta yang menciptakan alam semesta. Hutang-hutang ini wajib dilunasi jika seseorang telah beranjak remaja. Jika tidak dibayar dan dilunasi maka hidupnya di dunia akan sengsara dan leluhurnya tidak akan bisa kembali kepada Sang Pencipta.
Dengan ajaran seperti diatas, wajarlah jika seorang laki-laki Bali yang merupakan 'purusa' atau kepala keluarga dalam rumah tangganya tidak lazim untuk mengikuti keyakinan sang istri. Karena sebagai 'purusa' laki-laki Bali wajib memimpin keluarganya untuk membayar hutang-hutang tersebut dan juga sebagai wujud bakti kepada para leluhur.
Ditegaskan kembali, tidaklah lazim jika laki-laki Bali 'paid bangkung'. Meskipun secara ajaran agama Hindu tidak ada aturan, larangan, ataupun hukuman untuk pindah keyakinan. Hanya saja mereka tidak bisa melunasi hutang-hutang yang dibawa sedari lahir ke dunia.
Bagaimana jikalau perempuan Bali yang pindah keyakinan....?
Hal ini dianggap sah-sah saja atau lazim...makanya tidak ada istilah 'paid kaung'(babi jantan). Karena menurut adat-kebiasaan masyarakat Bali, perempuan merupakan 'pradana' yang wajib berbakti kepada sang suami selaku 'purusa'. Oleh karena itu jika laki-laki Bali yang menikah dan tinggal di rumah sang istri (nyentana), maka secara 'niskala' sang istri-lah yang merupakan 'purusa' atau sebagai kepala keluarga.
Kembali pada konteks mempertahankan keyakinan, saya sangat setuju dan mendukung jika perempuan Bali mampu menarik pasangan atau suaminya untuk ikut menjalankan ajaran Hindu dan berbakti kepada leluhur-nya.
Salut....untuk perempuan Bali yang sudah menjalani dan mengalaminya.
Jika banyak perempuan Hindu yang mampu berbuat seperti hal diatas ('maid kaung'), maka istilah paid bangkung bergeser menjadi 'Paid bangkung'..?? Why not...?? Istilah 'paid bangkung' bisa jadi hanya sekedar ungkapan untuk bahan guyonan, atau bahkan bisa menjadi pesan yang sarat makna untuk tetap teguh pada keyakinan. Tergantung dari sisi mana kita melihat.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menjadi bahan renungan bagi semua pihak.
Damai di hati, Damai di Dunia, Damai selalu.Intisari Agama Hindu
17.56, Posted by simple, No Comment
Agama Hindu ditandai dengan sifat rasional yang sangat kuat. Melalui jalan berliku dari harapan samar dan renunsiasi praktis, dogma-dogma ketat dan petualangan jiwa yang tidak mengenal takut, melalui empat atau lima melinium upaya-upaya tanpa henti dalam bidang menthapisik dan teologi para Maharesi Hindu telah mencoba untuk menangkap masalah-masalah terakhir dalam suatu kesetiaan kepada kebenaran dan perasaan atas kenyataan. Peradaban brahmanikal, terlatih menilai masalah-masalah tanpa emosi dan mendasarkan kesimpulan mereka atas pengalaman-pengalaman fundamental.
Hal yang menuntun para Maharesi Hindu untuk mengangkat pernyataan mengenai Tuhan (Hakikat kenyataan) adalah kefanaan. Dunia terbuka bagi pandangan kita yang obyektif tampak bagi mereka melampaui dirinya tanpa akhir (endless Surpassing of it self). Mereka bertanya: Apakah semua ini akan lenyap, atau apakah kutuk yang menelan hal-hal ini menemukan kendalinya di suatu tempat entah di mana? Dan mereka menjawab: Ada sesuatu di dunia ini tak digantikan, suatu yang mutlak yang tak dapat dihancurkan, yaitu Tuhan. Pengalaman mengenai yang tak terbatas ini (Tuhan) diberikan kepada kita semua pada beberapa kesempatan ketika kita menangkap kilatan rahasia yang amat kuat, dan merasakan kehadiran dari jiwa yang lebih besar dan menyelimuti kita dalam kejayaan. Bahkan pada saat tragis dalam kehidupan, ketika kita merasa diri kita miskin dan yatim-piatu keagungan Tuhan dalam diri kita membuat kita merasa bahwa kesalahan dan kesedihan dunia hanyalah kecelakaan kecil (incident) dalam sebuah drama yang lebih besar yang akan berakhir dalam kekuasaan, kemegahan dan kasih. Upanisad-upanisad mengatakan: "Bila tak ada semangat kebahagian di alam semesta ini, siapa yang dapat hidup dan bernafas dalam dunia kehidupan ini?" Secara filsafah Tuhan adalah Brahman yang memiliki identitas sendiri yang mengungkapkan (mewahyukan) dirinya dalam segalanya, menjadi landasan permanen dari proses dunia. Secara agama ia diihat sebagai kesadaran jiwa yang suci, hamil dengan seluruh gerak dunia, dengan evolusi dan involusinya.
Melalui perjalanan karirnya yang panjang, keesaan Tuhan telah menjadi cita-cita yang menuntun (governing ideal) dari agama Hindu. Reg Weda memberitahu kita mengenai Tuhan, Satu Hakekat Kenyataan Terakhir, Ekam Sat, mengenai Dia para terpelajar menyebutnya dengan berbagai nama. Upanisad-Upanisad juga mengatakan bahwa Tuhan yang satu itu disebut dengan berbagai nama sesuai dengan tingkat kenyataan dimana Dia dilihat berfungsi.
Konsepsi mengenai Tri Murti muncul dari periode epik, dan dimantapkan dalam zaman Purana-Purana. Analogi dari kesadaran manusia, dengan tiga lapis kegiatan, yaitu mengetahui (cognition), merasa (emotion), dan kehendak (will), menyarankan pandangan mengenai Tuhan sebagai Sat, Cit dan ananta Kenyataan (reality), kebijaksanaan (wisdom) dan kebahagian (joy). Triguna yaitu sattwa atau ketenangan, lahir dan kebijaksanaanrajas atau energi lahir dari rasa yang penuh semangat, dan tamas, kelambanan, lahir sebagai akibatnya kurangnya kendali dan pencerahan, adalah merupakan unsur-unsur dari semua eksistensi. Bahkan Tuhan juga dianggap tidak kecualikan dari hukum serba Tiga ini (trilicity), dari keseluruhan mahluk hidup.
Tiga fungsi dari utpeti (shristi) atau penciptaan stiti atau pemeliharaan dan pamralaya (pralina) atau penghancuran (peleburan) juga berasal dari Tri Guna ini. Wisnu Sang Pemelihara alam semesta adalah Jiwa Tertinggi yang didominasi oleh sifat sattwa, Brahman Sang Pencipta alam semesta adalah Jiwa Tertinggi yang didominasi oleh sifat rajas dan Siwa Sang Pemrelina alam semesta adalah Jiwa Tertinggi yang didominasi oleh sifat tamas. Tiga Sifat dari Tuhan Yang Tunggal dikembangkan menjadi tiga pribadi yang berbeda. Dan masing-masing pribadi itu dianggap berfungsi melalui sakti atau energinya masing-masing: Uma, Saraswati dan Laksmi. Secara harfiah ketiga sifa-sifat dan fungsi-fungsi ini seimbang di dalam Tuhan Yang Tunggal sehingga Dia dikatakan tidak memiliki sifat-sifat sama sekali. Satu Tuhan yang tidak dapat dipahami yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan ada di mana-mana, tempat berbeda bagi pikiran yang berbeda dalam cara yang berbeda. Satu teks kuno mengatakan bahwa bentuk diberikan kepada yang tak berbentuk bagi kepentingan manusia.
Dengan keterbukaan pikiran yang merupakan sifat dan filsafat, orang Hindu percaya akan relativitas dari keyakinan mayarakat umum yang memeluk keyakinan itu. Agama bukanlah sekedar teori mengenai yang supernatural yang dapat kita pakai atau kita tinggalkan semau kita. Agama merupakan pernyataan dari pengalaman spiritual dari bangsa yang bersangkutan, catatan dari evolusi sosialnya, bagian tak terpisahkan dari suatu mayarakat di atas di mana ia didirikan. Bahwa orang yang berbeda akan memeluk keyakinan yang berbeda, bukanlah sesuatu yang tidak alamiah. Ini adalah semua masalah cita rasa dan temperamen. Ruchinan vaichitriyat. Ketika bangsa Arya bertemu dengan penduduk asli yang menyembah berbagai macam dewa-dewa, meraka merasa tidak terpanggil untuk menggantikannya seketika itu dengan keyakinan mereka. Pada akhirnya semua manusia mencari Tuhan yang satu. Menurut Bagawad Gita Tuhan tidak akan menolak keinginan pemuja-Nya semata-mata karena mereka tidak merasakan kekacauan dan kebingungan. Guru-guru besar dunia yang memiliki cukup penghormatan terhadap sejarah tidak akan mencoba menyelamatkan dunia dalam generasi mereka dengan memaksakan pertimbangan-pertimbangan mereka yang maju terhadap mareka yang tidak mengerti atau menghargainya.
Para Maharesi Hindu, sementara mempraktekan ideal yang tinggi, memahami ketidak siapan rakyat untuk itu, dan karena itu melakukan pelayanan dengan lemah lembut dari pada pemaksaan yang liar. Mereka mengakui dewa-dewa yang lebih rendah dan di puja oleh orang banyak dan memberitahu mereka bahwa dewa-dewa itu semua berkedudukan lebih rendah dari Brahman atau Tuhan Yang Tunggal: sementara beberapa menemukan dewa-dewa di air, yang lain di surga, yang lain dalam benda-benda dunia, orang bijaksana menemukan Tuhan yang benar, yang keagunganNya hadir di mana-mana, di dalam Atman. Sloka yang lain mengatakan: "Manusia tindakan (man of action) menemukan Tuhan dalam api, manusia perasaan (men of feeling) menemukan Tuhan dalam hati, manusia yang masih rendah kemampuan berpikirnya menemukan Tuhan dalam patung, tapi manusia yang kuat secara spiritual menemukan Tuhan di mana-mana."
Sistem agama dan falsafah Hindu mengakui evolusi dan involusi dunia secara periodik yang mempresentasikan detak jantung universal, yang selalu diam dan selalu aktif. Seluruh dunia merupakan pengejawantahan dari Tuhan. Sayana mengamati bahwa segala sesuatu adalah wahana atau kendaraan tadi manifestasi Jiwa Yang Tertinggi (Tuhan). Mahluk dibedakan dalam beberapa tingkatan. "Di antara mahluk, yang bernafas yang tertinggi; di antara ini, mereka yang telah mengembangkan pikirannya; di antara ini, mereka yang telah mempergunakan pengetahuannya; sementara yang tertinggi adalah mereka yang dikuasai oleh perasaan mengenai kesatuan dari semua kehidupan dalam Tuhan. Jiwa yang satu mengungkapkan dirinya melalui tingkatan yang berbeda."
Yang tak terbatas dalam diri manusia tidak dapat dipuaskan oleh bentuk dunia terbatas yang fana. Kebebasan adalah harta milik kita, bila kita lari dari apa yang sementara dan terbatas dalam diri kita. Makin banyak hidup kita memanifestasikan yang tak terbatas dalam diri kita, makin tinggi kita berada dalam tingkatan hidup. Manifestasi yang paling tinggi disebut Awatara atau inkarnasi dari Tuhan. Ini bukanlah suatu yang tidak biasa, satu mikjijat Tuhan, tetapi hanya manifestasi yang lebih tinggi dari prinsip tertinggi, berbeda dari yang umum yang lebih rendah dalam derajat saja. Bagawad Gita mengatakan bahwa sekalipun Tuhan ada dan bergerak dalam segalanya, Dia memanifestasikan dirinya dalam derajat khusus dalam hal-hal yang indah. Para Maharesi dan para Buddha, para Nabi dan Mesiah, merupakan pengungkapan terdalam dari jiwa universal. Bagawad Gita menjanjikan bahwa mereka akan muncul bilamana mereka diperlukan. Bila kecenderungan meteralis yang merendahkan atau mendominasi kehidupan, seorang Rama atau Krishna atau seorang Buddha akan datang kedunia untuk memperbaiki harmoni kebenaran. Dalam manusia yang telah memutuskan kekuasaan indria, membuka hati yang penuh kasih, dan memberikan kita inpirasi akan kasih, kebenaran dan keadilan, kita memiliki konsentrasi yang kuat mengenai Tuhan. Mereka mengungkapkan kepada kita jalan, kebenaran dan hidup. Mereka tentu saja melarang penyembahan buta terhadap diri mereka, karena ini akan menurunkan pengejawantahan dari Jiwa yang Agung. Rama mengungkapkan dirinya tidak lebih dari anak seorang manusia. Seorang Hindu yang mengetahui sesuatu mengenai keyakinannya siap untuk memberikan rasa hormat kepada setiap penolong kemanusiaan. Dia percaya bahwa Tuhan berinkarnasi dalam seorang manusia. Manifestasi suci bukanlah pelanggaran terhadap kepribadian manusia sebaliknya, ia merupakan drajat kemungkinan tertinggi dari pengejawantahan-diri manusia yang alamiah sebab hakikat sebenarnya dari manusia adalah suci.
Tujuan dari hidup adalah pengungkapan secara perlahan dari yang abadi dalam diri kita, dari eksistensi kemanusiaan kita. Kemajuan umum diatur oleh karma atau hukum sebab akibat moral. Agama Hindu tidak percaya akan satu Tuhan yang dari kursi-pengadilannya menimbang tiap kasus secara terpisah dan menetapkan balasannya. Dia tidak melalukan keadilan dari luar, menambah atau mengurangi hukuman berdasarkan kehendakNya sediri. Tuhan ada "dalam" manusia, dan demikian juga karma hukum adalah merupakan bagian organik dari kakekat manusia. Setiap saat ada pada pengadilannya sendiri, dalam setiap usaha yang jujur akan memberikan dia kebaikan dalam upaya internalnya. Karakter yang kita bangun akan berlanjut ke masa depan sampai kita menyadari kesatuan kita dengan Tuhan. Anak-anak Tuhan, yang dalam pandangannya satu tahun adalah seperti satu hari, tidaklah merasa perlu kecil hati bila tujuan kesempurnaan itu tidak tercapai dalam suatu kehidupan. Kelahiran kembali diterima oleh semua penganut Hindu. Dunia ini dipelihara oleh kesalahan-kesalahan kita. Kekuatan-kekuatan yang menyatukan ciptaan adalah hidup kita yang terpatah-patah yang perlu diperbaharui. Alam semesta telah muncul dan lenyap berulang-kali tak terhitung di masa lampau yang panjang, dan akan terus berlanjut dilebur dan dibentuk kembali melalui keadilan yang tak dapat dibayangkan di masa yang akan datang.
saduran dari : Sarvepalli Radhakrishnan
