Kajeng Keliwon datang setiap 15 hari sekali. Upacara dan upakara-upakara yang wajîb dilakukan pada hari Kajeng Keliwon ini, hampir sama dengan upacara dan upakara keliwon yang dilakukan pada hari Keliwon. Hanya saja segehan-segehannya bertambah dengan nasi-nasi kepel lima warna, yaitu: merah, putih, hitam, kuning, brumbun Tetabuhannya adalah tuak/ arak berem. Di bagian atas, di ambang pintu gerbang (lebuh) harus dihaturkan canang burat wangi dan canang yasa. Semuanya itu dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Durgha Dewi. Di bawah / di tanah dihaturkan segehan, dipersembahkan kepada Sang Butha Bucari, Sang Kala Bucari, dan Sang Durgha Bucari. Segehan ini dihaturkan kepada Kala Buchara / Buchari (Bhuta Kala) supaya tidak mengganggu. Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan. Mengenai waktu penyajiannya bisa dilakukan tiap hari, atau hari- hari tertentu sesuai kebiasaan dan rerainan. Bahan utamanya adalah nasi berwarna beberapa kepal. Yang umum segehan: putih dan kuning. Tetapi ada juga segehan putih dan putih, putih - hitam, putih - merah, merah - merah, hitam - hitam, kuning - kuning. Ada pula yang yang panca warna: peletakannya sebagai berikut: Hari Keliwon dalam panca wara datang tiap-tiap lima hari sekali. Pada tiap-tiap hari Keliwon, bersemadilah Sang Hyang Çiwa. Umat Hindu di Bali harus menyucikan cita (budhi) dengan metirtha gocara. Dilaksanakan dengan cara menghaturkan canang serta wangi-wangian di sanggah dan di atas tempat tidur. Selanjutnya dihaturkan canang reresik wangi-wangian di Parhyangan dan di Kahyangan. Yadnya ini ditujukan ke hadapan Sang Hyang Ciwa, yaitu ke hadapan Ida Sang Widhi Wasa, kemudian di natar sanggah/ pemerajan, di natar rumah dan menghadap pintu gerbang pekarangan, dihaturkan segehan beberapa nasi kepel (sesuap nasi) lauknya bawang jahe. Tiap set segehan itu terdiri dari 2 kepel dan disuguhkan 3 set (tanding).
Dari Sang Tiga Bucari itu kita memohon, agar memberi keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga kita, serta memperoleh kesempurnaan hidup dan kebahagiaan.Setelah selesai menghaturkan upacara-upacara itu, lalu bersembahyang kehadapan Dewa Bhatara, terutama kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, mohon keselamatan dunia dan segala isinya. sumber @ http://pasektangkas.blogspot.com/ |
Kajeng Keliwon
20.32, Posted by simple, No Comment
Yadnya Sesa, Jotan, Banten Pekidih
20.26, Posted by simple, No Comment
| Jumat, 2008 November 28 | ||||||
Setiap keluarga Hindu, biasanya diwakili oleh ibu, setiap hari membuat banten kecil yang disebut banten pekidih atau jotan. Banten sederhana ini biasanya terdiri atas beberapa tanding (porsi) masing- masing dialasi selembar daun pisang, atau daun jepun (bunga kamboja), atau taledan kecil dari slepan / janur atau tangkih, berisi sejumput nasi, secuil garam dan sejumput lauk pauk yang dimasak (kecuali daging sapi atau daging babi). Banten tersebut kemudian disajikan ke beberapa tempat sesuai dengan kebiasaan keluarga.Kebiasaan tersebut dilakukan setelah memasak, sebelum ada yang makan. Tujuannya adalah sebagai pernyataan rasa terimakasih ke hadapan yang Hyang Widhi. Juga dibantenkan kepada segala isi dunia / gumatat- gumitit agar tidak mencampuri urusan kehidupan. Yadnya Çesa, dilaksanakan tiap hari, biasanya pada pagi atau siang hari, dan di senja hari. Sesajen disiapkan setelah menanak nasi, berupa masing-masing banten pekidih atau jotan sesuap nasi lengkap dengan lauk pauknya serba mungil, jumlahnya menurut keperluan. Diberikan kebebasan dalam menentukan berapa jumlah jotan, dapat berbeda bergantung kepada arti yang kita berikan kepada letak persembahannya, namun yang wajib ada tiga (3) sedangkan yang lain diambilkan dari yang paling lazim. Yang wajib adalah segehan untuk dipersembahkan di halaman merajan, di halaman rumah, dan di penunggu karang atau pintu utama. Selebihnya biasanya untuk di dapur, tempat penyimpanan air, tempat penyimpanan beras, dan sebagainya. Yang di halarnan (natar) sanggah pemerajan ditujukan kepada Sang Bhuta Bucari. Yang di halaman (natar) rumah ditujukan kepada Sang Kala Bucari dan yang di depan pintu keluar (lebuh) ditujukan kepada Sang Durgha Bucari. Adapun yang lain-lain adalah ditiap-tiap bangunan rumah, sumur, di dapur, di lumbung, diapit lawang, di sanggah natar, di Jero Luh Alat perlengkapan lainnya. yang patut dibawa ialah, air dan dupa harum. Waktu penyelenggaraan segehan yang akan dihaturkan, terlebih dahulu harus dituangkan (disuguhkan) air sedikit, lalu dengan perantaraan asap dupa harum segehan itu dipersilakan (dihayapkan) untuk mohon keselamatan, kernudian barulah segehan itu masing-masing 1 porsi (tanding) diletakkan di tempat haturan. Untuk sore harinya yaitu Sandhya-kala, segahan dihaturkan kepada Sang Bhuta Kala dan Durgha Bucari yaitu di natar sanggah, rumah serta pintu keluar pekarangan. Ucapannya :
Menurut kepercayaan, kita baru boleh makan setelah melakukan Yadnya Cesa. Yadnya tersebut kita lakukan demi keselamatan dan ketentraman kita sekeluarga. Melaksanakan Yadnya Cesa wajib didasari pikiran yang suci bersih dan tulus ikhlas. Mungkin di tempat-tempat lain terdapat cara yang berbeda-beda sesuai dengan desa- kala- patra, tetapi tujuannya sama, yaitu untuk keselamatan dan ketentraman hidup kita sehari-harinya. sumber @ http://pasektangkas.blogspot.com/ |
Tumpek Wayang
20.23, Posted by simple, No Comment
Pada hari ini Sabtu, 13 Desember 2008 atau dalam kalender Bali Saniscara Kliwon Wayang adalah hari Tumpek Wayang merupakan Puja Walinya Sang Hyang Iswara. Hari ini umat Hindu di Bali menghaturkan upacara menuju keutamaan tuah pratima-pratima dan wayang, juga kepada semua macarn benda seni dan kesenian, tetabuhan, seperti : gong, gender, angklung, kentongan dan lain-lain.Bebantennya yaitu : suci, peras, ajengan, sedah woh, canang raka, pesucian dengan perlengkapannya dan lauknya itik putih.
Upakara dihaturkan ke hadapan Sanghyang Iswara, dipuja di depan segala benda seni dan kesenian agar selamat dan beruntung dalam melakukan pertunjukan-pertunjukan, menarik dan menawan hati tiap-tiap penonton.
Untuk pecinta dan pelaku seni, upacara selamatan berupa persembahan bebanten: sesayut tumpeng guru, prayascita, penyeneng dan asap dupa harum, sambil memohon agar supaya mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dalam menciptakan majunya kesenian dan kesusastraan.
Hari Raya Saraswati
20.22, Posted by simple, No Comment
Dalam legenda digambarkan bahwa Saraswati adalah Dewi/ lstri Brahma. Saraswati adalah Dewi pelindung/ pelimpah pengetahuan, kesadaran (widya), dan sastra. Berkat anugerah dewi Saraswati, kita menjadi manusia yang beradab dan berkebudayaan.
Dewi Saraswati digambarkan sebagai seorang wanita cantik bertangan empat, biasanya tangan- tangan tersebut memegang Genitri (tasbih) dan Kropak (lontar). Yang lain memegang Wina (alat musik / rebab) dan sekuntum bunga teratai. Di dekatnya biasanya terdapat burung merak dan undan (swan), yaitu burung besar serupa angsa (goose), tetapi dapat terbang tinggi .
Upacara pada hari Saraswati, pustaka-pustaka, lontar-lontar, buku-buku dan alat-alat tulis menulis yang mengandung ajaran atau berguna untuk ajaran-ajaran agama, kesusilaan dan sebagainya, dibersihkan, dikumpulkan dan diatur pada suatu tempat, di pura, di pemerajan atau di dalam bilik untuk diupacarai.
Widhi widhana (bebanten = sesajen) terdiri dari peras daksina, bebanten dan sesayut Saraswati, rayunan putih kuning serta canang-canang, pasepan, tepung tawar, bunga, sesangku (samba = gelas), air suci bersih dan bija(beras) kuning.
Pemujaan / permohonan Tirtha Saraswati dilakukan mempergunakan bahan-bahan: air, bija, menyan astanggi dan bunga.
- Ambil setangkai bunga, pujakan mantra: Om, puspa danta ya namah.
- Sesudahnya dimasukkan kedalam sangku. Ambil menyan astanggi, dengan mantram "Om, agnir, jyotir, Om, dupam samar payami".
- Kemudian masukkan ke dalam pedupaan (pasepan).
- Ambil beras kuning dengan mantram : "Om, kung kumara wijaya Om phat".
- Masukkan kedalam sesangku.
- Setangkai bunga dipegang, memusti dengan anggaranasika, dengan mantram:
| Mantra | Artinya |
| Om, Saraswati namostu bhyam Warade kama rupini Siddha rastu karaksami Siddhi bhawantu sadam. | Om, Dewi Saraswati yang mulia dan maha indah,cantik dan maha mulia. Semoga kami dilindungi dengan sesempurna-sempurnanya. Semoga kami selalu dilimpahi kekuatan. |
| Om, Pranamya sarwa dewanca para matma nama wanca. rupa siddhi myaham. | Om, kami selalu bersedia menerima restuMu ya para Dewa dan Hyang Widhi, yang mempunyai tangan kuat. Saraswati yang berbadan suci mulia. |
| Om Padma patra wimalaksi padma kesala warni nityam nama Saraswat. | Om, teratai yang tak ternoda, Padma yang indah bercahaya. Dewi yang selalu indah bercahaya, kami selalu menjungjungMu Saraswati. |
Sesudahnya bunga itu dimasukkan kedalam sangku. Sekian mantram permohonan tirta Saraswati. Kalau dengan mantram itu belum mungkin, maka dengan bahasa sendiripun tirta itu dapat dimohon, terutama dengan tujuan mohon kekuatan dan kebijaksanaan, kemampuan intelek, intuisi dan lain-lainnya.
Setangkai bunga diambil untuk memercikkan tirtha ke pustaka-pustaka dan banten-banten sebanyak 5 kali masing-masing dengan mantram :
-
Om, Saraswati sweta warna ya namah.
-
Om, Saraswati nila warna ya namah.
-
Om, Saraswati pita warna ya namah.
-
Om, Saraswati rakta warna ya namah.
-
Om, Saraswati wisma warna ya namah.
Selanjutnya melakukan persembahyangan 3 kali ditujukan ke hadapan :
-
Sang Hyang Widhi (dalam maniftestasinya sebagai Çiwa Raditya).
-
Sang Hyang Widhi (dalam manifestasinya sebagai Tri Purusa)
-
Dewi Saraswati.
| Mantramnya | Artinya |
| Om, adityo sya parajyote rakte tejo namastute sweta pangkaja madyaste Baskara ya namo namah. Om, rang ring sah Parama Çiwa Dityo ya nama swaha. | Om, Tuhan Hyang Surya maha bersinar-sinar merah yang utama. Putih Iaksana tunjung di tengah air, Çiwa Raditya yang mulia. Om, Tuhan yang pada awal, tengah dan akhir selalu dipuja. |
| Om, Pancaksaram maha tirtham, Papakoti saha sranam Agadam bhawa sagare. Om, nama Çiwaya. | Om, Pancaksara Iaksana tirtha yang suci. Jernih pelebur mala, beribu mala manusia olehnya. Hanyut olehnya ke laut lepas. |
| Om, Saraswati namostu bhyam, Warade kama rupini, Siddha rastu karaksami, Siddhi bhawantume sadam. | Om Saraswati yang mulia indah, cantik dan maha mulia, semoga kami dilindungi sesempurna-sempurnanya, semoga selalu kami dilimpahi kekuatan. |
Sesudah sembahyang dilakukan metirtha dengan cara-cara dan mantram-mantram sebagai berikut :
- Meketis 3 kali dengan mantram:
- Om, Budha maha pawitra ya namah.
- Om, Dharma maha tirtha ya namah.
- Om, Sanghyang maha toya ya namah.
- Minum 3 kali dengan mantram:
- Om, Brahma pawaka.
- Om, Wisnu mrtta.
- Om, Içwara Jnana.
- Meraup 3 kali dengan mantram :
- Om, Çiwa sampurna ya namah.
- Om, Çiwa paripurna ya namah.
- Om, Parama Çiwa suksma ya namah.
- Terakhir melabahan Saraswati yaitu makan surudan Saraswati sekedarnya, dengan tujuan memohan agar diresapi oleh wiguna Saraswati.
Puja astawa yang disiapkan ialah : Sesayut yoga sidhi beralas taledan dan alasnya daun sokasi berupa nasi putih daging guling, itik, raka-raka sampian kernbang payasan. Sesayut ini dihaturkan di atas tempat tidur, dipersembahkan ke hadapan Ida Sang Hyang Aji Saraswati.
Keesokan harinya dilaksanakan Banyu Pinaruh, yakni asuci laksana dipagi buta berkeramas dengan air kumkuman. Ke hadapan Hyang Saraswati dihaturkan ajuman kuning dan tamba inum. Tamba inum ini terdiri dari air cendana, beras putih dan bawang lalu diminum, sesudahnya bersantap nasi kuning garam, telur, disertai dengan puja mantram:
- Om, Ang Çarira sampurna ya namah swaha.
Semua ini mengandung maksud, mengambil air yang berkhasiat pengetahuan.
Bali Age, Bali Majapahit
20.10, Posted by simple, No Comment
| |
Bali Age, Bali Majapahit, Setelah kurang lebih tujuh abad, terjadi mengembang biakan (hibriditas)identitas orang Bali. Dalam hibriditas identitas itu terjadi konflik dan integrasi sosial. Konflik dan integrasi sosial bersifat elastis dan fluktuatif, seperti "gelang karet". Dalam kurun waktu tertentu, rumusan pembeda identitas menjadi sedemikian renggangnya hingga menimbulkan konflik. Namun dalam konjungtur waktu yang berbeda, sebuah pembeda identitas tidak relevan lagi dan merumuskan pembeda yang baru. Misalnya, Kini orang Bali berbicara tentang "kehilangan Ke-Balian" untuk menegaskan posisi mereka berhadapan dengan kepentingan ekonomi-politik luar Bali. Akibatnya, pembeda identitas lain yang pernah ada seperti Bali Age-Bali Majapahit dan identitas Kewangsaan menjadi pudar. Dan rumusan menjadi orang Bali menjadi sumber integrasi sosial. Di sini kita bisa melihat bahwa identitas di Bali memenuhi fungsinya yang instrumentalis.
Identitas dalam Sejarah
Secara historis, identitas orang Bali berkembang menjadi beberapa kategori pembeda. Pertama, identitas Bali Mula dan Bali Majapahit. Dimulai sekitar tahun 1350 Masehi ketika Sri Kresna Kepakisan, pemegang kuasa Majapahit atas Bali, mengukuhkan identitas sosial baru. Wong Majapahit, yang membedakan dengan identitas penduduk lokal Bali sebelumnya, yang disebut Wong Age (Bali Age). Identitas itu memberi pembeda dalam lapangan kebudayaan, agama dan politik sampai saat ini.
Secara geokultural, orang-orang Bali keturunan Majapahit tinggal di daerah Bali dataran yang berlimpah dengan air. Sehingga, mereka mengenal sistem pengairan (subak) dan juga menganut sistem apanage. Secara politis, orang Bali dataran lebih memilih sistem kepemimpinan tunggal dan monolitik. Mereka mengenal Puri dan Grya sebagai pemegang otoritas ekonomi-politik dan kultural. Sebaliknya, orang Bali Age tinggal di wilayah pedalaman yang berbukit-bukit. Secara ekologis, mereka sangat tergantung pada alam dan sumber daya hutan. Secara politis, mempunyai sistem sosial yang komunal dan kepemimpinan kolektif.
Kedua, sejalan dengan tegaknya kekuasaan Majapahit di Bali maka lahir pembeda lain yang didasarkan atas identitas kewangsaan yaitu antara tri wangsa dan jaba wangsa. Pembeda identitas kewangsaan ini asal usulnya bisa dilacak dari dua doktrin keagamaan Hindu-Majapahit: doktrin dewa raja dan doktrin wangsa. Dalam doktrin Dewa-raja, raja dan ksatrya wangsa (negara) merupakan representasi daulat kekuasaan kedewaan. Sehingga, identitas kewangsaan itu memikul tugas "suci" menegakan kekuasaan kedewaan dengan membangun tertib sosial dan moral. Dalam doktrin ini tatanan masyarakat dibayangkan seperti tubuh manusia (organic), yang mempunyai kepala, badan, kaki dan tangan. Setiap elemen dalam tubuh manusia mempunya fungsi dan tugas sendiri-sendiri. Walaupun demikian, kepala dianggap sebagai organ yang utama. Paham tentang tubuh manusia ini lalu diturunkan ke dalam tatanan sosial. Implikasinya, lahir stratifikasi dan hieraki sosial. Konsekuensi pemahaman doktrinal keagamaan seperti itu mengakibatkan tata sosial-politik di Bali di masa lalu menempatkan "linggih" dan "sor-singgih" menjadi sangat sentral. "Linggih" dan "sor-singgih" lalu diterjemahkan ke dalam struktur kebahasaan yang hierarkis (sor-singgih base), perbedaan gaya hidup (nganutin antuk linggih) maupun sakralisasi status sosial.
Ketiga, disintegrasi kekuasaan Gelgel pada tahun 1700 yang diikuti oleh masuknya kolonial pada tahun 1908 memunculkan pembeda identitas yang bersendi pada sikap orang Bali pada republik: golongan reaksioner dan republiken. Identitas ini berkembang pada masa revolusi (1945-1950). Saat itu, kekuasaan politik masih berada di tangan Dewan Raja-raja. Kekuasaan mereka mendapatkan legitimasi dari NICA yang datang ke Bali setelah kekalahan Jepang. Untuk mengukuhkan kekuasaannya, beberapa raja kemudian membentuk gerakan yang disebut gerakan reaksioner. Mereka juga membentuk milisi sipil yang direkrut dari kalangan pemuda. Milisi ini dibentuk untuk menghadapi pejuang gerilya pro republik. Pejuang pro republik ini kemudian disebut golongan republiken.
Kapitalisme Pariwisata dan Kebalian
Pembeda yang keempat adalah identitas Ke-Balian. Gejala menguatnya identitas Ke-Balian ini bisa dimaknai dalam tiga kategori. Pertama, ia muncul sebagai instrumen resistensi dari aktor-aktor (agency) lokal terhadap berbagai proses sosial-ekonomi-politik yang terjadi di Bali. Kedua, sebagai invensi dari modernitas dan Negara. Ketiga, antara resistensi dan invensi saling menguatkan identitas Ke-Balian.
Sebagai invensi modernitas, Ke-Balian muncul sebagai kreativitas aktor-aktor modern memanfaatkan tradisi untuk mengakumulasi kapital (modernitas). Hal yang sama dilakukan oleh Negara yang memanfaatkan tradisi untuk kepentingannya pembangunan, pertumbuhan ekonomi, stabilitas dan sebagainya.
Sebagai bentuk resistensi fenomena penguatan Ke-Balian merupakan reaksi terhadap kehadiran dua kekuatan yaitu rezim modernitas dan proses negaraisasi. Rezim modernitas mempunyai kekuatan mengontrol individu dalam komunitas untuk memenuhi standar kehidupan modern melalui berbagai proyek pendisiplinan. Modernitas kemudian membawa apa yang disebut homogenisasi "taste of culture" yang meniadakan keunikan dan keberbedaan. Dalam konteks inilah identitas digunakan untuk melakukan penolakan "penyeragaman" oleh modernitas.
Selain itu, identitas Ke-Balian merupakan reaksi atas perubahan konfigurasi ekonomi-politik akibat Kapitalisme Pariwisata. Intensifnya perkembangan pariwisata di Bali sejalan dengan menurunnya kemampuan Negara sebagai motor penggerak ekonomi pasca oil boom, mendorong munculnya gelombang migrasi dari daerah-daerah di luar Bali. Berbeda dengan pola migrasi pada masa Gelgel dan kolonial, kehadiran migran dalam konteks pasca kolonial lebih didorong oleh rasionalitas ekonomi yang bertemu dengan logika kapitalisme-pasar. Kalangan migran baru ini mempunyai sejumlah rasionalitas ekonomi sebagai alasan utama untuk berpindah ke Bali.
Dari Pertukaran menuju Kompetisi
Kehadiran pendatang dapat dipastikan menimbulkan perubahan konfigurasi demografik di Bali. Bali yang dulu dikenal sebagai daerah homogen kini menjadi heterogen, terutama di kawasan pariwisata. Kehadiran pendatang juga menimbulkan pergeseran pola relasi pendatang-pribumi, dari hubungan pertukaran menjadi relasi yang kompetitif. Pergeseran ini terjadi ketika perkembangan pariwisata membawa ketimpangan antara lapangan kerja yang tersedia dengan jumlah pencari kerja. Di beberapa sektor ekonomi, kehadiran tenaga kerja pendatang memang menjadi komplementer (muncul exchange) karena kelangkaan tenaga kerja lokal yang masuk ke sektor ekonomi itu. Namun, sebagian besar sektor-sektor ekonomi menjadi arena kompetisi antara penduduk lokal dan pendatang. Dalam ruang ini, orang Bali bersaing dengan orang Jawa, Sumatera dan sebagainya untuk memperebutkan lapangan kerja.
Kompetisi tidak hanya terjadi dalam perebutan lapangan pekerjaan, melainkan juga dalam kompetisi antar pemodal dan kelas menengah profesional. Kaum kapitalis lokal bersaing dengan pemodal dari luar Bali. Sedangkan kaum profesional Bali juga harus menghadapi persaingan dengan kaum profesional dari luar Bali.
Selain membangun kompetisi ekonomi, perkembangan kapitalisme di Bali juga mengukuhkan prasangka etnis di bidang ekonomi. Logika kapital yang lebih memperhatikan keuntungan ekonomi mendorong kaum kapitalis, baik orang Bali maupun orang non Bali, untuk mendapatkan tenaga kerja yang bisa dibayar murah serta tidak merugikan akumulasi kapital. Pilihan mencari tenaga kerja murah menyebabkan kaum pemodal kemudian lebih "melirik" tenaga kerja pendatang, karena umumnya mereka mau dibayar lebih murah.
Selain itu, pilihan terhadap tenaga kerja pendatang juga dilakukan atas prasangka etnisitas: karena tenaga kerja Bali dianggap "banyak libur". Streotipe ini muncul ketika orang Bali harus terlibat dalam kegiatan adat (ayahan ke Banjar dan Desa Adat) dan keagamaan (hari raya keagamaan). Konsekuensi logisnya, kapitalis lebih diuntungkan bila merekrut tenaga kerja pendatang dibandingkan dengan tenaga kerja lokal.
Kompetisi ekonomi, baik di level pemilik modal maupun tenaga kerja, menimbulkan fenomena menguatnya ethnosentrisme orang Bali yang nampak dari persepsi tentang ancaman terhadap identitas Ke-Balian dari kalangan pendatang. Keterancaman ini tidak saja dalam hal perebutan sumber-sumber ekonomi melainkan juga masuk ke domain kultural-spritual. Kehadiran pendatang dianggap "melunturkan atau bahkan menghancurkan" sendi-sendi budaya, adat dan agama orang Bali. (A.A.G.N. Ari Dwipayana) source @ http://pasektangkas.blogspot.com/2007/10/bali-age-bali-majapahit.html |
Diskusi Bali Post (1) Jalan Layang, Solusi Jangka Pendek
08.59, Posted by simple, One Comment
Dari pendekatan keagamaan tak hanya merujuk soal tatwa. Di Bali masih ada pendekatan ritual, etika dan susila. Ritual tak hanya menyangkut soal perasaan juga berimbas kepada etika. Karena itu, Bali dalam jangka panjang tidak memerlukan jalan layang untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Tawaran jalan layang hanyalah terapi jangka pendek. Tawaran jangka pendek itu pun baru bisa dilaksanakan asalkan sudah bisa dicarikan solusi umat Hindu yang membawa pratima.
Dr. Ir. Tjokorda Raka Sukawati, IPM.:
Jalan layang sudah layak di Bali. Jika tidak demikian, tanah pertanian di Bali akan habis. Pasalnya, bukan hanya lahan pertanian yang dihabiskan untuk membuka jalan baru tersebut, tetapi dampak ikutan sebagai ekses dari dibangunnya jalan tersebut. Bangunan baru dengan cepat muncul sehingga lahan pertanian di sekitarnya cepat beralih fungsi.
I Dewa Gede Ngurah Swasta, S.H.:
Dibangunnya jalan layang akan membuat Bali semrawut. Bali tidak akan ada bedanya dengan Jakarta. Dari estetika, Bali sangat riskan dibangun jalan layang. Persoalan yang dihadapi Bali sesungguhnya masih bisa diatasi dengan mendisiplinkan aparat dan rakyat, konsistensi penerapan aturan perizinan membangun serta kesigapan aparat dalam melaksanakan aturan dan pengawasan.
Tawaran jalan layang untuk memecahkan kemacetan lalu lintas di Bali masih tetap memunculkan kontroversi. Dari segi teknologi dan kelayakan, jalan layang itu sudah layak dibangun di kawasan tertentu seperti di simpang-siur Kuta. Namun tetap dipersoalkan. Selain solusi jangka pendek, dari sisi estetika serta etika agama Hindu, hal itu juga bermasalah. Hal itu terungkap pada diskusi yang digelar Bali Post, Rabu (14/1) kemarin di Warung Beras Bali, Jalan Sahadewa nomor 26 Denpasar. Diskusi menghadirkan Ida Pedanda Gede Made Gunung, penemu teknologi jalan layang Sosrobahu Dr. Ir. Tjokorda Raka Sukawati, IPM., pengamat ekonomi Dr. IGW Murjana Yasa, S.E., M.Si., Nayaka Majelis Utama Desa Pakraman Bali I Dewa Gede Ngurah Swasta, S.H. dan Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Bali Ir. Ida Bagus Sidharta, M.T. Berikut rangkuman diskusi tersebut.
TAWARAN jalan layang kembali diapungkan untuk memecahkan masalah lalu lintas di Bali. Tawaran ini mengingat makin kroditnya lalu lintas di Denpasar dan Badung. Selain itu, juga laju pertumbuhan kendaraan yang cepat yang tak diikuti dengan pertumbuhan prasarana jalan yang memadai. Lebih-lebih adanya rencana memangkas perda yang mengatur tinggi bangunan. Kalau ini dilaksanakan tentu akan mengundang pendatang makin banyak ke Pulai Dewata ini. Akibatnya Bali akan makin sesak, krodit dan macet di mana-mana. Dari sejumlah titik kemacetan lalu lintas di Bali, bunderan simpang-siur dinilai paling macet. Karena itu pemerintah daerah menilai sudah layak dikaji jalan layang.
Tjokorda Raka Sukawati -- penemu Sosrobahu -- memandang jalan layang sudah layak di Bali. Jalan layang tak hanya dibangun di Jakarta, tetapi sudah melebar sampai di Filipina. Bahkan, 10 meter dari Pura Rawamangun di Jakarta sudah dibangun jalan layang. Jalan layang adalah jembatan yang dibuat di atas jalan baru. Lantas dibangun tiang beton seberat 480 ton. Di atasnya dibuat bidang sejajar dengan tiang tersebut baru badan jalan di atasnya. Pada tempat tertentu bisa diputar 90 derajat. Karena itu tawaran jalan layang disambut baik penemu Sosrobahu. Jika tidak demikian, tanah pertanian di Bali akan habis. Pasalnya, bukan hanya lahan pertanian yang dihabiskan untuk membuka jalan baru tersebut, tetapi dampak ikutan sebagai ekses dari dibangunnya jalan tersebut. Bangunan baru dengan cepat muncul sehingga lahan pertanian di sekitarnya cepat beralih fungsi.
Bagaimana dari sisi adat dan agama? Dari adat dan budaya, Bali memang unik. Karena keunikan tersebut, Bali mendapat beragam predikat yang menjadikan demikian terkenalnya. Bahkan, Hindu di Bali juga berbeda dengan India karena ada konten lokal adat dan budaya. Persoalannya ketika adat dan budaya terkoyak, dampaknya sangat luas terhadap pariwisata budaya dan ekonomi krama Bali. Karena itu, kajian jalan layang hanya menjadi pilihan alternatif yang masih perlu dikaji mendalam dan komprehensif.
Dari pendekatan keagamaan tak hanya merujuk soal tatwa seperti membangun jalan layang di dekat Pura Rawamangun, Jakarta. Di Bali masih ada pendekatan ritual, etika dan susila. Ritual tak hanya menyangkut soal perasaan juga berimbas kepada etika. Dari sisi ini, umat Hindu yang membawa pratima tak mungkin masulub di bawah jalan layang.
Karena itu, Bali dalam jangka panjang tidak memerlukan jalan layang untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. 'Tawaran jalan layang hanyalah terapi jangka pendek (short therapy) yang paling lama bisa bertahun sampai 30 tahun setelah itu macet lagi,' kata Ida Pedanda Gunung. Tawaran jangka pendek itu pun baru bisa dilaksanakan asalkan sudah bisa dicarikan solusi umat Hindu yang membawa pratima tak masulub di bawahnya.
Bagaimana dengan estetika apakah tak akan merusak keindahan alam Bali yang unik? Pandangan Dewa Swasta, bunderan simpang-siur kalau dibangun jalan layang di atasnya akan lebih semrawut. Apa yang menjadi kebanggaan wisatawan melihat alam Bali yang indah sesungguhnya tak akan terkesan seperti itu. Bali akan semrawut seperti Jakarta. Dari estetika, Bali sangat riskan dibangun jalan layang. Persoalan yang dihadapi Bali sesungguhnya masih bisa teratasi dengan mendisiplinkan aparat dan rakyat, konsistensi aturan perizinan membangun, kesigapan aparat dalam melaksanakan aturan dan pengawasan.
Lantas biang keladi dari kemacetan lalu lintas itu apa sesungguhnya? Ikuti bagian kedua dari tulisan ini, Jumat besok! (sua)
MAKNA PELINGGIH TAKSU DI MERAJAN
08.15, Posted by simple, No Comment
indriyebhyah param manah.
manasas tu para budhir
yo buddheh pratas tusah.
(Bhagawad Gita Gita IV.42).
Maksudnya:
Sempurnakanlah indriamu, tetapi kesempurnaan indria berada di bawah kesempurnaan pikiran, kekuatan pikiran berada dalam pencerahan kesadaran budhi. Yang paling suci adalah Atman.
MEMELIHARA kesehatan indria agar dapat berfungsi secara sempurna merupakan upaya hidup sehari-hari yang wajib dilakukan. Indria tersebut adalah alat untuk dapat kita merasakan adanya suka dan duka dalam kehidupan ini. Cuma indria yang sehat sempurna itu harus digunakan di bawah kendali pikiran yang cerdas. Kecerdasan pikiran itu dilandasi oleh kesadaran budhi yang bijaksana. Struktur diri yang demikian itulah yang akan dapat mengimplementasikan kesucian Atman dalam wujud perilaku.
Indria, pikiran dan kesadaran budhi yang mampu menjadi media kesucian Atman itulah yang menyebabkan orang disebut mataksu dalam hidupnya. Kata ''taksu'' berasal dari kata ''aksi'' artinya melihat. Melihat itu dengan cara pandang yang multidimensi itulah menyebabkan orang disebut mataksu. Melihat sesuatu tidak hanya dengan mata fisik saja. Pandangan mata fisik itu dianalisis oleh pandangan pikiran yang cerdas dan dipandang dengan renungan rohani yang mendalam. Cara pandang yang demikian itulah yang akan dapat melihat sesuatu dengan multidimensi. Penglihatan yang multidimensi itulah menyebabkan orang mataksu.
Tempat pemujaan sebagai Ulun Karang atau hulunya rumah tempat tinggal bagi umat Hindu di Bali umumnya disebut Merajan atau Sanggah Merajan. Di tempat pemujaan yang disebut Merajan Kamulan itu ada salah satu pelinggihnya disebut Taksu. Pelinggih Kamulan umumnya didirikan di leret timur dari areal Merajan hulu pekarangan. Pelinggih Kamulan itulah sebagai pelinggih utama. Sebutan lain dari Merajan tersebut adalah Kemulan Taksu atau juga disebut Pelinggih Batara Hyang Guru.
Menurut Lontar Purwa Bhumi Kamulan, Atman yang telah mencapai tingkat Dewa Pitara atau Sidha Dewata distanakan di Pelinggih Kamulan. Lontar Gayatri menyatakan orang yang meninggal rohnya disebut Preta. Setelah diupacarai ngaben rohnya disebut Pitara. Selanjutnya dengan upacara Atma Wedana barulah disebut Dewa Pitara.
Menurut Lontar Siwa Tattwa Purana ada lima jenis upacara Atma Wedana berdasarkan besar kecilnya upacara yaitu: Ngangsen, Nyekah, Mamukur, Maligia dan Ngeluwer. Setelah roh diyakini mencapai status Dewa Pitara inilah ada prosesi upacara yang disebut upacara Dewa Pitra Pratistha. Umat Hindu di Bali umumnya menyebutnya upacara Nuntun Dewa Hyang atau juga disebut Ngalinggihan Dewa Hyang di Pelinggih Kamulan. Karena itulah berbagai lontar menyatakan bahwa Pelinggih Kamulan sebagai stana Sang Hyang Atma.
Di leret utara dari areal tempat pemujaan Merajan salah satu pelinggihnya ada yang disebut Pelinggih Taksu. Karena itu tempat pemujaan Ulun Karang itu juga disebut Pelinggih Kamulan Taksu. Dalam Lontar Angastya Prana ada diceritakan bahwa saat jabang bayi ada dalam kandungan berada dalam pengawasan Dewa Siwa. Setelah ada sembilan bulan lebih jabang bayi tersebut ada dalam kandungan maka Dewa Siwa minta agar jabang bayi itu lahir ke dunia.
Diceritakan jabang bayi itu takut lahir ke dunia. Mengapa takut, karena hidup di dunia itu banyak penderitaan yang akan dialami. Ada angin ribut, ada gempa, ada gunung meletus, ada kelaparan, ada banjir, ada perang dan banyak lagi ada hal-hal yang membuat orang menderita. Atas jawaban jabang bayi itu Dewa Siwa menyatakan bahwa engkau tidak perlu takut hidup di dunia, nanti saudaramu yang empat itu akan membantu kamu mengatasi segala derita.
Untuk itu kamu harus minta bantuan kepada saudaramu yang empat itu yang disebut Catur Sanak. Catur Sanak itu adalah ari-ari atau plasenta, darah, lamas dan yeh nyom. Empat hal itulah yang melindungi dan memelihara secara langsung sang jabang bayi dalam kandungan ibunya. Kedokteran dapat menjelaskan secara ilmiah apa fungsi keempat unsur yang melindungi bayi dalam kandungan ibunya itu.
Diceritakan secara mitologi dalam Lontar Angastia Prana sang jabang bayi bersedia minta tolong pada Sang Catur Sanak. Permintaan jabang bayi itu disanggupi oleh Sang Catur Sanak dengan catatan agar setelah lahir ke dunia sang bayi tidak boleh lupa dengan dirinya. Dengan kesepakatan itu Sang Catur Sanak mendorong sang jabang bayi lahir ke dunia.
Setelah sang bayi dan Catur Canak sama-sama lahir ke dunia, keduanya mendapatkan perlakuan sekala dan niskala. Setiap bayi diupacarai secara keagamaan. Sang Catur Sanak pun ikut serta diupacarai. Nama Sang Catur Sanak berubah menjadi seratus delapan kali. Demikianlah sampai sang bayi meningkat dewasa, tua dan sampai meninggal.
Saat bayi baru lahir Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana nasi kepel empat kepel. Saat sudah meninggal roh atau Atman dipreteka dengan upacara ngaben, saat itu Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana beras catur warna. Sampai upacara Atma Wedana dan roh mencapai Dewa Pitara distanakan di Pelinggih Kamulan, maka Catur Sanak distanakan di Pelinggih Taksu. Karena itulah tempat pemujaan di Ulun Karang itu disebut Kamulan Taksu sebagai Batara Hyang Guru.
Dalam Vana Parwa 27.214 dinyatakan ada lima macam Guru. Atman adalah satu dari lima guru yang dinyatakan dalam Vana Parwa tersebut. Pendirian tempat pemujaan keluarga di Ulun Karang tempat tinggal adalah sebagai prosesi untuk menstanakan Atman sebagai Batara Hyang Guru dalam kehidupan keluarga inti bagi umat Hindu di Bali.
Dengan adanya Pelinggih Taksu sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam Merajan Kamulan inilah ada suatu nilai spiritual yang patut dipetik sebagai penuntun hidup di bumi ini. Dengan adanya Pelinggih Kamulan Taksu ini dapat dikembangkan suatu pandangan bahwa bagaimana konsep taksu dari sudut pandang Hindu dalam sistem budaya spiritual di Bali. Dengan konsep yang benar itulah kita jaga taksu Bali ke depan untuk menghadapi pergolakan kehidupan global yang semakin dinamis. * I Ketut Gobyah
sumber: BaliPost


