RSS : Articles / Comments


Dasa Awatara

08.38, Posted by simple, No Comment

Sepuluh Awatara / utusan Tuhan sebagai pemelihara alam yaitu:

1. Matsya Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai Ikan yang besar yang menyelamatkan manusia pertama dari tenggelam saat dunia dilanda banjir yang maha besar.

2. Kurma Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai kura-kura besar yang menumpu dunia agar selamat dari bahaya terbenam saat pemutaran Gunung Mandara di Lautan Susu (Kesire Arnawa) oleh para Dewa untuk mencari Tirta Amertha (Air suci kehidupan)

3. Waraha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Badak Agung yang mengait dunia kembali agar selamat dari bahaya tenggelam

4. Nara Simbha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai manusia berkepala singa (Simbha/Sima) yang membasmi kekejaman Raja Hyrania Kasipu yang sangat lalim dan menindas Adharma

5. Wamana Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai orang kerdil berpengetahuan tinggi dan mulia dalam mengalahkan Maha Raja Bali yang sombong dan ingin menguasai dunia serta menginjak-injak Dharma.

6. Paracu Rama Awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai Rama Parasu yaitu Rama bersenjatakan Kapak yang membasmi para ksatrya yang menyeleweng dari ajaran Dharma.

7. Rama Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Sang Rama putra raja Dasa Rata dari Ayodya untuk menghanncurkan kejahatan dan kelaliman yang ditimbulkan oleh Raksasa Rahwana dari negara Alengka.

8. Krisna Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai Sri Krisna raja Dwarawati untuk membasmi raja Kangsa, Jarasanda dan membantu Pandawa untuk menegakkan keadilan dengan membasmi Kurawa yang menginjak-injak Dharma.

9. Budha Awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai putra raja Sododana di Kapilawastu India dengan nama Sidharta Gautama yang berarti telah mencapai kesadaran yang sempurna. Budha Gautama menyebarkan ajaran Budha dengan tujuan untuk menuntun umat manusia mencapai kesadaran, penerangan yang sempurna atau Nirwana.

10. Kalki Awatara yaitu penjelmaan Hyang Widhi yang terakhir yang akan turun untuk membasmi penghinaan-penghinaan, pertentangan-pertentangan agama akibat penyelewengan umat manusia dari ajaran Hyang Widhi (Dharma). Menurut keyakinan umat Hindu, awatara terakhir akan turun apabila memuncaknya pertentangan-pertentangan agama di dunia ini.


my brother @ http://speqlen.co.cc/2008/06/16/dasa-awatara/

MUHAMMAD bukan Juru Selamat Hindu

08.20, Posted by simple, 6 Comments

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman mem-forward sebuah e-mail dengan judul "Syahnuhikyat dan Sumaneb" yang berisi serangkaian argumen bahwa Muhammad sebenarnya adalah Kalki Avatar, yaitu Awatara (inkarnasi Tuhan) terakhir yang ditunggu-tunggu umat manusia. Oleh karena itu, segenap umat Hindu dihimbau untuk segera mengikuti ajaran Muhammad SAW (Islam) agar selamat dunia akhirat.

Propaganda semacam ini sebenarnya sudah lama sekali berdengung (atau lebih tepatnya, didengung-dengungkan) dan sempat menjadi perbincangan hangat, baik dalam komunitas Hindu sendiri, Islam, maupun komunitas-komunitas antar agama, bahkan pernah juga dimuat di satu majalah nasional. Isu ini sempat pula mereda hingga kemudian muncul kembali ke permukaan. Melihat usaha yang terus-menerus dari sebagian kalangan untuk memunculkannya kembali, saya cukup yakin bahwa isu ini takkan pernah hilang sama sekali.

Bagaimanapun, sebagai seseorang yang pengetahuan akan sastra sucinya sangat terbatas, saya tidak akan berbicara panjang lebar mengenai ciri-ciri fisik maupun perkiraan waktu turunnya Kalki Avatar.

Awatara, seperti yang telah disinggung sebelumnya, dipercaya sebagai inkarnasi/titisan Brahman/Tuhan, dalam hal ini sebagai Wisnu (Vishnu) atau pemelihara semesta. Dalam kitab-kitab suci, disebutkan bahwa sampai dunia pralina, Tuhan akan menjelma sebanyak sepuluh kali untuk menjaga kelangsungan semesta. Dua di antaranya adalah Sri Rama dan Sri Krsna (cat: Buddha Gautama juga dipercaya sebagai Awatara menurut tradisi, tetapi atas alasan tertentu, saya menolak untuk mempercayainya).

Sebenarnya dengan mudah kita dapat menemukan banyak sekali kelemahan dari hasil penemuan tersebut (yang notabene hanya didasarkan pada interpretasi dan pengalihbahasaan nama semata, yang belum tentu akurat pula). Saya akan menampilkan dua di antaranya:

Dalam Islam, Allah TIDAK Berinkarnasi

Konsep Awatara dalam Hindu jelas-jelas menyebutkan bahwa Awatara merupakan perwujudan/inkarnasi Tuhan di muka bumi. Padahal Quran mengatakan bahwa Tuhan (Allah SWT) TIDAK pernah dan tidak akan mewujudkan diri dalam bentuk duniawi. Jadi konsep Awatara jelas tidak diakomodasi oleh Quran. Satu argumen ini saja sudah dapat meruntuhkan, bahkan menjungkirbalikkan penemuan tersebut.

Muhammad adalah UTUSAN Allah, BUKAN Allah

Bahwa Awatara adalah Tuhan sendiri yang turun tidak saja tertulis dalam nubuat-nubuat Kitab Suci, melainkan juga DINYATAKAN sendiri oleh Awatara tersebut. Mari kita ambil kutipan dari Bhagavadgita 12: 8 berikut ini:
Sri Krsna berkata kepada Arjuna:

"Kepada-Ku sajalah pusatkan pikiranmu dan biarkanlah pemahamanmu berada di dalam-Ku. Hanya di dalam-Ku sajalah nantinya kamu akan hidup. Tentang hal ini tak perlu diragukan lagi"

Di sini Sri Krsna jelas-jelas memposisikan diriNya sebagai TUHAN, karena hanya Tuhan-lah yang dapat mengucapkan (dan mempertanggungjawabkan) ucapan seperti itu. Dalam Gita juga digambarkan bagaimana Sri Krsna menampakkan wujud ILAHI (bukan wujud duniawiNya) pada Arjuna, di mana Arjuna melihat bahwa dunia dan seluruh alam semesta berada DALAM diriNya.

Banyak sekali sloka (ayat) lain dalam Gita yang menyatakan Ketuhanan Krsna ini.

Bagaimana dengan Muhammad? Muhammad tidak pernah satu kalipun menyatakan dirinya sebagai Tuhan, melainkan sebagai utusan Tuhan (perhatikan bunyi bagian kedua dari syahadat: "Aku percaya bahwa Muhammad adalah UTUSAN Allah). Muhammad juga tidak pernah tercatat memperlihatkan sesosok wujud ilahi pada pengikut-pengikutnya. Bahkan, Muhammad sangat ketat memegang peraturan mengenai pemujaan oknum lain selain Allah. Lebih jauh lagi, kita tidak pernah mendengar seorang Muslim menyejajarkan Muhammad dengan Allah kemudian menyembahnya. Kalau begitu, kenapa kita harus mengakui Muhammad sebagai Tuhan?

Ajaran Muhammad TIDAK SINKRON dengan ajaran para Awatara

Seperti yang kita semua ketahui, dasar iman utama umat Hindu adalah Panca Sraddha, di mana salah satu di antaranya adalah REINKARNASI. Ajaran mengenai kelima dasar iman Hindu ini secara KONSISTEN selalu disampaikan oleh seluruh Awatara. Akan tetapi, kita tidak akan pernah menemukan ajaran mengenai reinkarnasi ini dalam Al Quran (kecuali satu ayat yang menyebutkan tentang kelahiran dan kematian berulang-ulang yang ditafsirkan berbeda oleh umat Islam secara umum).

Tentu saja ada kemungkinan bahwa Quran pun sebenarnya menyinggung-nyinggung tentang reinkarnasi, akan tetapi Quran juga memuat konsep lain yang lebih populer dan lebih diimani oleh umat Muslim pada umumnya yaitu konsep surga-neraka yang kekal abadi dan pengadilan akbar pada hari kiamat.

Konsep MOKSHA juga tidak dikenal dalam ajaran Islam. Padahal di sinilah terletak hakikat kesempurnaan seorang manusia menurut Hindu.

Jadi, mungkinkah Kalki Awatara tiba-tiba mengajarkan ajaran yang bertentangan dari ajaran Awatara-Awatara terdahulu (yang notabene adalah diriNya sendiri juga?) Silakan Saudara jawab sendiri.

Kesimpulan

Akhirnya, pikiran jernih dan tenang (viveka) harus selalu dikedepankan dalam mencermati setiap aspek kehidupan, dalam hal ini untuk mengetahui apakah mereka yang menyatakan diriNya sebagai Awatara adalah benar Awatara atau bukan. Terlepas dari ciri-ciri jasmaniah dan kemampuan supranatural, kita dapat simpulkan dari sastra suci bahwa Awatara bersifat welas asih, tulus ikhlas dan tanpa pamrih.

Terakhir, walaupun beberapa ahli Veda menafsirkan bahwa Kalki Avatar "belum" akan turun hingga beribu-ribu tahun lagi, ini tidak berarti bahwa kita bisa bersantai-santai dan menikmati hidup dalam kefanaan. Perwujudan Tuhan yang sesungguhnya adalah ketika kita dapat melihat, merasakan, dan menghayati Tuhan dalam diri kita masing-masing. Dan untuk itu, kita tidak perlu menunggu ribuan tahun, bukan? Dia selalu ada di sini, di sana, di mana-mana. Dapatkah kita melihatNya?

Berpikirlah dengan tenang dan jernih, lihatlah dengan mata hati.

"Aum Ano Badrah Kratawo Yantu Wiswatah"
(Semoga pikiran-pikiran luhur datang dari segala penjuru)

-Rig Veda I:89-


sumber @ http://shinzu-i.blogspot.com/2005/03/muhammad-bukan-juru-selamat-hindu.html

thank untuk saudaraku yang telah menjelaskan dengan sempurna, i love hindu. And will be Hindu forever

Otonan atau Weton

20.40, Posted by simple, No Comment



Otonan atau Ngotonin, yang merupakan peringatan hari kelahiran berdasarkan satu tahun wuku, yakni; 6 (enam) bulan kali 35 hari = 210 hari. Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari).

Berbeda dengan peringatan hari Ulang Tahun yang hanya menggunakan perhitungan tanggal dan bulan saja, dengan mengabaikan hari maupun wuku pada tanggal tersebut. Misalnya seseorang yang lahir tanggal 10 Januari, maka hari ulang tahunnya akan diperingati tiap-tiap tanggal 10 Januari pada tahun berikutnya (12 bulan kalender).

Otonan diperingati sebagai hari kelahiran dengan melaksanakan upakara yadnya yang kecil biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan dan bila upakaranya lebih besar dipuput aleh pemangku (Pinandita). Sarana pokok sebagai upakara dalam otonan ini ada1ah; biyukawonan, tebasan lima, tumpeng lima, gebogan dan sesayut.

Menurut tradisi umat Hindu di Bali, dalam mengantarkan doa-doa otonan sering mempergunakan doa yang diucapkan yang disebut sehe (see) yakni doa dalam bahasa Bali yang diucapkan oleh penganteb upacara otonan yang memiliki pengaruh psikologis terhadap yang melaksanakan otonan, karena bersamaan dengan doa juga dilakukan pemberian simbol-simbol sebagai telah menerima anugerah dari kekuatan doa tersebut.

Sebagai contoh :
Melingkarkan gelang benang dipergelangan tangan si empunya Otonan, dengan pengantar doa : "Ne cening magelang benang, apang ma uwat kawat ma balung besi" (Ini kamu memakai gelang benang, supaya ber otot kawat dan bertulang besi).

Ada dua makna yang dapat dipetik dari simbolis memakai gelang benang tersebut adalah pertama dilihat dari sifat bendanya dan kedua dari makna ucapannya. Dari sifat bendanya benang dapat dilihat sebagai berikut :

1. Benang memiliki konotasi beneng dalam bahasa Bali berarti lurus, karena benang sering dipergunakan sebagai sepat membuat lurus sesuatu yang diukur. Agar hati selalu di jalan yang lurus/benar.

2. Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat.

Sedangkan dari ucapannya doa tersebut memiliki makna pengharapan agar menjadi kuat seperti memiliki kekuatannya baja atau besi. Disamping kuat dalam arti fisik seperti kuat tulang atau ototnya tetapi juga kuat tekadnya, kuat keyakinannya terhadap Tuhan dan kebenaran, kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup sebab hidup ini bagaikan usaha menyeberangi samudra yang luas. Bermacam rintangan ada di dalamnya, tak terkecuali cobaan hebat yang sering dapat membuat orang putus asa karena kurang kuat hatinya.

Dalam rangkaian upacara otonan berikutnya sebelum natab, didahului dengan memegang dulang tempat sesayut dan memutar sesayut tersebut tiga kali ke arah pra sawia (searah jarum jam) dengan doa dalam bahasa Bali sebagai berikut: "Ne cening ngilehang sampan, ngilehang perahu, batu mokocok, tungked bungbungan, teked dipasisi napetang perahu "bencah" (Ini kamu memutar sampan, memutar perahu, batu makocok, tongkat bungbung, sampai di pantai menemui kapal terdampar).

Dari doa tersebut dapat dilihat makna:

1. "Ngilehang sampan ngilehang perahu" bahwa hidup ini bagaikan diatas perahu yang setiap hari harus kesana-kemari mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup ini. Badan kasar ini adalah bagaikan perahu yang selalu diarahkan sesuai dengan keinginan sang diri yang menghidupi kita.

2. "Batu makocok" adalah sebuah alat judi. Kita teringat dengan kisah Pandawa dan Korawa yang bermain dadu, yang dimenangkan oleh Korawa akibat kelicikan Sakuni. Jadi hidup ini bagaikan sebuah perjudian dan dengan tekad dan keyakinan yang kuat harus dimenangkan.

3. "Tungked bungbungan" (tongkat berlobang) adalah bambu yang dipakai kantihan yakni sebagai penyangga keseimbangan samping perahu agar tidak mudah tenggelam karena bambu bila masih utuh memang selalu terapung. "Perahu hidup ini" jangan mudah tenggelam oleh keadaan, kita harus selalu dapat mengatasinya sehingga dapat berumur panjang sampai mempergunakan tongkat (usia tua).

4. "Teked dipasisi napetang perahu bencah" (sampai di pantai menemui perahu / kapal terdampar). Terinspirasi dari sistem hukum tawan karang yang ada pada jaman dahulu di Bali, yakni setiap ada kapal atau perahu yang terdampar di pantai di Bali, rakyat Bali dapat dengan bebas menahan dan merampas barang yang ada .pada kapal yang terdampar tersebut. Maksudnya supaya mendapatkan rejeki nomplok, atau dengan usaha yang mudah bisa mendapatkan rejeki yang banyak.

Demikian luhurnya makna doa yang diucapkan dalam sebuah upacara otonan bagi masyarakat Hindu Bali yang dikemas dengan simbolis yang dapat dimaknai secara fisik maupun psikologis, dengan harapan agar putra-putri yang menjadi tumpuan harapan keluarga mendapatkan kekuatan dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan.

sumber @ http://pasektangkas.blogspot.com/

Piodalan Batara Hyang Guru

18.50, Posted by simple, No Comment

Piodalan Batara Hyang Guru

Hari ini Minggu, 18 Januari 2009 umat hindu mengadakan persembahyangan untuk Batara Hyang Guru atau Piodalan Batara Hyang Guru.

Ring Kamulan ngaran Ida Sang Hyang Atma,ring Kamulan tengen bapa ngaran paratma,ring Kamulan kiwa ibu ngaran Sang Hyang Siwatma,ring Kamulan tengah ngaran raganta, metu Brahmadadi meme bapa meraga Sang Hyang Tuduh.(Dipetik dari Lontar Usana Dewa)

Maksudnya:
Di Kamulan disebutkan Sang Hyang Atma, di ruang kanan Pelinggih Kamulan adalah bapa disebut Sang Hyang Paratma, di ruang kiri Kamulan adalah ibu disebut Sang Hyang Siwatma, di ruang tengah Kamulan raganta menjadi Brahma sebagai ibu dan bapa menjadi Sang Hyang Tuduh.
Di hulu pekarangan di setiap rumah umat Hindu di Bali umumnya ada tempat pemujaan keluarga yang disebut Sanggah atau Merajan Kamulan. Dalam Lontar Siwagama dinyatakan bahwa Bhagawan Manohari dari Siwapaksa atas penugasan Sri Gondarapati agar membangun pemujaan yang disebut Kamulan di setiap hulu pakarangan rumah tempat tinggal. Sepuluh pekarangan rumah tinggal memiliki tempat pemujaan yang disebut Pelinggih Pretiwi. Dua puluh pekarangan rumah tinggal memiliki tempat pemujaan yang disebut Pelinggih Ibu. Empat puluh pekarangan rumah tinggal memiliki tempat pemujaan yang disebut Panti. Hal inilah menyebabkan setiap pekarangan umat Hindu di Bali ada tempat pemujaan Kamulan yang umumnya dibangun di hulu pekarangan rumah tinggal.
Menurut beberapa sumber pustaka Hindu di Bali, yang dipuja di Pelinggih Kamulan itu adalah Sang Hyang Atma. Di samping dinyatakan dalam Lontar Usana Dewa yang dikutip di atas juga dinyatakan dalam Lontar Gong Wesi sbb: ...ngarania Sang Hyang Atma, ring Kamulan Tengen bapanta ngaran Sang Paratma, ring Kamulan kiwa ibunta ngaran Sang Siwatma, ring Kamulan madia raganta, atma dadi meme bapa ragane mantuk ring dalem dadi Sang Hyang Tunggal nunggalin raga.
Demikian pula dalam Lontar Siwagama Sargah sepuluh menyatakan sba: ...kramania Sang Pitara mulihing batur Kamulania nguni. Karena itulah sang Pitara Sang Pitpara pulang ke asal Kamulannya dulu. Hal yang menyatakan lebih tegas lagi bahwa Pelinggih Kamulan sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Atma adalah Lontar Purwa Bumi Kamulan. Lontar ini menguraikan tata cara upacara Nuntun Dewa Hyang di Kamulan. Lontar ini menguraikan amat rinci tentang tata cara menstanakan roh suci leluhur yang disebut Dewa Pitara di Kamulan.
Dalam Lontar Gayatri dinyatakan saat orang meninggal rohnya disebut Preta. Setelah melalui prosesi upacara ngaben roh tersebut disebut Pitra. Setelah melalui upacara Atma Wedana dengan Nyekah atau Mamukur roh itu disebut Dewa Pitara. Upacara ngaben dan upacara Atma Wedana digolongkan upacara Pitra Yadnya. Sedangkan upacara Ngalinggihang atau Nuntun Dewa Hyang dengan menstanakan Dewa Pitara di Pelinggih Kamulan sudah tergolong Dewa Yadnya.
Roh yang disebut Dewa Pitara itu adalah roh yang telah mencapai alam Dewa. Karena Sang Hyang Atma yang sudah mencapai tingkatan Dewa Pitara diyakini setara dengan Dewa. Menstanakan Dewa Pitara di Kamulan juga dinyatakan dengan sangat jelas dalam Lontar Pitutur Lebur Gangsa dan Lontar Sang Hyang Lebur Gangsa.
Dalam Lontar Pitutur Lebur Gangsa dinyatakan sbb: ...muwang ngunggahang dewa pitara ring ibu dengen ring kamulan. Sedangkan dalam Lontar Sang Hyang Lebur Gangsa dinyatakan sbb: muwah banten penyuda mala karahaken pitra ngarania angunggahaken Dewa Pitara ring ibu dengen muang ring Kamulan ngaran. Kedua lontar tersebut menyatakan bahwa menstanakan roh suci leluhur yang disebut Dewa Pitara di Kamulan dengan istilah muwang ngunggahaken Dewa Pitara ring ibu dengan ring Kamulan.
Dalam tradisi Hindu di Bali Dewa Pitara yang distanakan di Pelinggih Kamulan itu disebut Batara Hyang Guru. Dalam Vana Parwa 27.214 dinyatakan ada lima macam Guru yaitu Agni, yaitu sinar suci Hyang Widhi, Atman yaitu unsur yang tersuci dalam diri manusia yang berasal dari Brahman, Mata yaitu ibu yang melahirkan kita, Pita yaitu ayah menyebabkan kita lahir dan Acarya yaitu guru yang memberikan ilmu pengetahuan. Hal inilah yang nampaknya di Bali menjadi ajaran Catur Guru yaitu Guru Swadyaya, Guru Rupaka, Guru Pengajian dan Guru Wesesa.
Karena Atman sebagai salah satu Guru yang dinyatakan dalam Vana Parwa itulah nampaknya menjadi dasar pendirian Kamulan sebagai tempat memuja Dewa Pitara sebagai Batara Hyang Guru. Atman dalam Upanisad adalah Brahman yang ada dalam diri makhluk hidup yang diselubungi oleh Panca Maya Kosa. Untuk menjadikan Atman itu Guru adalah melalui proses upacara ngaben, mamukur dan Nuntun Dewa Pitara. Proses upacara tersebut sebagai simbol untuk melepaskan Atman dari selubung Atman yang disebut Panca Maya Kosa itu. Dengan demikian Atman yang pada hakikatnya Brahman itu langsung tanpa halangan Panca Maya Kosa dapat menjadi Guru dan umat sekeluarga.
Upacara tersebut bagaikan menghilangkan selubung mendung di langit biru yang menutupi sinar matahari sehingga sinar matahari tersebut dapat langsung memberikan penerangan pada bumi ini. Demikianlah proses upacara ngaben untuk melepaskan Atman dari selubung Stula Sarira. Upacara Atma Wedana melepaskan Atman dari selubung Suksma Sarira. Sedangkan upacara Danda Kalepasan adalah upacara untuk mengambil dosa-dosa leluhur oleh keturunannya. Dengan demikian Sang Hyang Atma tanpa selubung lagi sehingga disebut Dewa Pitara.
Upacara Danda Kalepasan di Bali ada yang menyebutnya upacara Maperas yang artinya keturunan orang yang diupacarai itu mengadopsi utang-utang karma leluhur yang diupacarai tersebut. Yang diwarisi oleh keturunan itu bukanlah berupa kekayaan materi saja. Berbagai utang karma dari leluhur itu juga harus diwarisi juga.
Ini artinya pemujaan pada leluhur dalam tradisi Hindu di Bali, baik buruk, lebih kurang dari leluhur itu harus diterima sebagai warisan. Baiknya harus diupayakan untuk terus dipertahankan bahkan dikembangkan eksistensinya supaya lebih berguna bagi kehidupan selanjutnya. Sedangkan buruk dari berbagai kekurangan dari leluhur itu harus direduksi agar tidak berkembang merusak kehidupan selanjutnya.
Pengalaman adalah guru terbaik, demikian orang menyebutkan. Pengalaman yang baik dan buruk dari leluhur itu dijadikan guru dalam hidup ini. Itulah pentingnya pemujaan Batara Hyang Guru di Kamulan.

sumber @  http://pasektangkas.blogspot.com/

Makna Tumpek Landep

18.40, Posted by simple, No Comment



Hari ini Sabtu 17 Januari 2009 merupakan Hari Raya Tumpek Landep bagi umat Hindu, adapun makna tumpek landep akan diuraikan dalam tulisan berikut : Saniscara Kliwon Wuku Landep, seperti biasa umat Hindu merayakan Tumpek Landep. Dalam konteks ritual, umumnya umat Hindu memohon ke hadapan Hyang Widi Wasa agar tiap peralatan teknologi dapat berfungsi tepat guna, memudahkan umat dalam beraktivitas.

Di balik itu, apa sesungguhnya makna Tumpek Landep? Plt. Rektor Institut Hindu Dharma (IHD) Negeri Denpasar Drs. I Gede Rudia Adiputra, M.Ag. mengatakan perayaan Tumpek Landep pada hakikatnya memohon kepada Tuhan agar umat diberikan ketajaman senjata kehidupan. ''Landep itu mengandung makna runcing atau tajam. Jadi yang ditajamkan adalah senjata kehidupan kita. Tumpek Landep dipakai momen untuk menajamkan senjata kehidupan,'' ujar Rudia Adiputra.

Senjata kehidupan itu, kata Rudia, tak lain adalah pikiran. Agar pikiran cerdas, perlu ditajamkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Melalui pikiran yang tajamlah umat diharapkan mampu menghadapi berbagai musuh dalam diri. Musuh itu yakni persoalan-persoalan kehidupan, antara lain kemiskinan, kebodohan, kegelapan dan sebagainya. ''Berbagai musuh itulah yang mesti kita lawan dengan tajamnya pikiran dan hati nurani,'' ujarnya.

Kata Rudia, menajamkan pikiran itu melalui penguasaan ilmu pengetahuan. Melalui perayaan Hari Saraswati-lah umat Hindu bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa karena telah diturunkannya ilmu pengetahuan. Sementara, dalam Tumpek Landep umat ''mengevaluasi'' apakah tajamnya pikiran lewat penguasaan ilmu pengetahuan sudah mampu digunakan dengan baik.

Kata Rudia, salah besar jika ada anggapan bahwa Tumpek Landep dimaknai otonan kendaraan. Pada Tumpek Landep umat sejatinya memohon keselamatan agar senjata kehidupannya bisa bermanfaat demi kesejahteraan umat manusia. Pun kendaraan, senjata dan alat-alat teknologi tercipta dari olah pikir manusia. Dalam ritual Tumpek Landep, alat-alat itu diharapkan dapat berfungsi untuk memudahkan aktivitas manusia sekaligus bermakna bagi kehidupan bersama.

Makna bagi Seniman
Tumpek Landep pun memiliki makna tersendiri bagi para seniman. Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Negeri Denpasar Prof. Dr. Wayan Rai S, M.A. mengatakan Tumpek Landep sebagai momen penting untuk mempertajam kemampuan seni bagi seorang seniman.

Perayaan Tumpek Landep itu hendaknya dijadikan tonggak untuk memantapkan diri dalam berkesenian yakni menajamkan penciptaan, teknik garapan dan sebagainya. Untuk bisa membuat garapan yang betul-betul metaksu, perlu ada upaya dari dalam maupun luar diri seniman.

Kata Rai, Tumpek Landep erat sekali hubungannya dengan taksu. Secara umum, para seniman sudah melakukan pemujaan saat memulai berkesenian. Tetapi dalam perayaan Tumpek Landep, para seniman lebih memantapkan diri melakukan penajaman melalui persembahyangan agar metaksu. Dengan mengosongkan pikiran untuk memuja Tuhan, diharapkan muncul inspirasi dan spirit baru.

Sebagai bentuk ritual memuja Dewa Kesenian dalam Tumpek Landep, para seniman biasanya mengupacarai atribut tari seperti gelungan, keris, tombak dan lain-lain. ''Dengan melangsungkan ritual seperti itu para seniman berharap agar selalu diberikan ketajaman dalam berkesenian,'' katanya.

Penajaman itu tak hanya lewat keterampilan atau latihan, tetapi juga spiritual. Sehingga para seniman mampu tampil tajam atau metaksu. ''Untuk bisa metaksu, seorang seniman harus meraihnya melalui kedua aspek yakni fisik maupun mental,'' katanya.

Aspek fisik melalui latihan-latihan menabuh dan menari. Aspek mental melalui pendalaman-pendalaman keilmuan dan kaitannya dengan keyakinan terhadap Ida Sang Hyang Widi, sehingga mampu tajam atau metaksu dalam penampilan.

sumber @ http://pasektangkas.blogspot.com/

Makna Meru di Penataran Agung Besakih

18.34, Posted by simple, No Comment



Saddosah puruseneha
hatavya bhutimicchata
nidra tandra bhayam
krodham alsyam dirgasutrata
(Udyogaparva. 33.78)
Maksudnya:
Orang yang menginginkan hidup sejahtera di dunia ini, hendaknya meninggalkan enam sifat-sifat yang tidak baik yaitu suka tidur (nidra), malas (tandra), selalu takut (bhaya), marah (krodha), tidak bersemangat (alasaya), suka mengulur waktu untuk menyelesaikan pekerjaan (dirgasutrata).

Di Pura Penataran Agung Besakih pada Mandala kedua agak ke kanan berdiri dua bangunan suci atau pelinggih berbentuk Meru Tumpang Sebelas dan Tumpang Sembilan. Tumpang dalam hal ini artinya tumpukan tau tingkat. Meru Tumpang Sebelas artinya bangunan berbentuk Meru tumpukan atau tingkatan atapnya sebanyak sebelas tumpuk atau tingkat. Dua meru ini juga sangat menjelaskan tentang arti dan makna memuja Tuhan bagi umat Hindu.

Dalam ajaran Hindu, Tuhan dipuja bukan untuk sekadar memujanya. Pemujaan pada Tuhan untuk didayagunakan untuk membina kehidupan di bumi ini agar menjadi semakin bahagia lahir batin.

Meru Tumpang Sebelas di Pura Penataran Agung Besakih umumnya umat Hindu menyebutkan sebagai tempat pemujaan Ratu Manik Maketel. Dari sudut arti kata hal itu memiliki arti yang sangat baik. Manik dalam bahasa Bali adalah suatu jenis permata yang sangat berharga dan sangat mulia. Maketel artinya tertumpah. Dari memuja Tuhan sebagai Ratu Manik Maketel ini memiliki padanan dengan istilah Manik Sakecap artinya apa pun yang diucapkan, dilaksanakan orang berdasarkan pikiran yang utama bagaikan manik selalu memiliki nilai yang sangat tinggi.

Dari segi sebutannya sebagai Ratu Manik Maketel di Meru Tumpang Sebelas, Tuhan dipuja untuk memohon diturunkannya SDM yang memiliki kemampuan Manik Maketel atau Manik Sakecap.

Artinya SDM yang bukan asal bunyi dan ngomong sembarangan saja. Dengan memuja Tuhan di Meru Tumpang Sebelas berarti memuja Tuhan untuk memohon agar manusia mendapatkan karunia Tuhan dalam menyelenggarakan pendidikan SDM baik formal, nonformal dan informal.

Ini berarti makna pemujaan Tuhan tersebut akan bermanfaat untuk membangkitkan kekuatan diri agar menjadi manusia yang memiliki kekuatan utama bagaikan ''Manik Maketel atau Manik Sakecap''. Tujuan pemujaan Tuhan agar memiliki kekuatan bagaikan manik itu tidak akan menjadi kenyataan kalau hanya berhenti pada memuja Tuhan di Meru Tumpang Sebelas di Pura Penataran Agung Besakih. Pemujaan Tuhan sebagai Ratu Manik Maketel di Penataran Agung Besakih itu baru tahap membangun kekuatan spiritual yang berasal dari hubungan manusia dengan Tuhan. Hal itu akan menjadi kenyataan apabila dilanjutkan dengan upaya manusia sendiri untuk membangun kekuatan intelektual dan kehalusan emosionalnya.

Intelektual yang cerdas dan emosional yang halus akan dapat bersinergi dengan keheningan spiritualitas. Sinergi antara emosional, intelektual dan spiritual itulah yang akan melahirkan SDM yang berkualitas bagaikan Manik Maketel. Ini artinya membangun SDM yang berkualitas itu hendaknya mendayagunakan nilai-nilai keagamaan (Ketuhanan), ilmu pengetahuan dan apresiasi seni budaya.

Dengan agama atau Ketuhanan manusia menguatkan spiritualitasnya untuk mengarahkan hidupnya secara benar dan tepat. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia membangun kecerdasan intelektualitasnya untuk mencapai berbagai kemudahan hidup. Dan, dengan apresiasi seni budaya manusia membangun kepekaan emosionalnya untuk mencapai kehalusan rasa.

Dengan sinergi itu seseorang akan bisa menghilangkan enam sifat yang wajib ditinggalkan bagi mereka yang menghendaki hidup sejahtera di dunia ini. Enam hal yang seyogianya ditinggalkan dinyatakan dalam Udyogaparwa yang dikutip dalam tulisan ini. Kalau enam hal itu masih melekat dalam diri seseorang maka tidak mungkin ia menjadi SDM yang Manik Sekecap atau SDM yang berkualitas.

Meru Tumpang Sembilan di Pura Penataran Agung Besakaih itu terletak di sebelah kanan Meru Tumpang Sebelas stana Tuhan sebagai Ratu Manik Maketel. Di Meru Tumpang Sembilan di Pura Penataran Agung Besakih itu disebut sebagai stana Ratu Kubakal. Menurut I Gusti Agung Gede Putra (alm), mantan Dirjen Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha, menyatakan kata Kubakal itu berasal dari bahasa Bali kuna yang artinya bekal atau logistik.

Ini artinya memuja Tuhan sebagai Ratu Kubakal dengan media Pelinggih Meru Tumpang Sembilan itu adalah bermakna untuk memohon kelestarian sumber daya alam sebagai sumber tersedianya kebutuhan akan pangan, sandang dan papan yang memadai. Tentunya sama juga halnya dengan memuja Tuhan sebagai Ratu Manik Maketel. Hal itu hanyalah bersifat awal menguatkan aspek spiritual.

Kalau tidak dilanjutkan dengan menguatkan aspek intelektual dan kepekaan emosional maka hal itu hanyalah akan berhenti pada gagasan yang sangat idealis. Ia harus dilanjutkan dengan langkah-langkah nyata dengan bekal mental spiritual tersebut. Meski demikian, lewat pemujaan Tuhan sebagai Ratu Kubakal itu dapat disosialisasikan bahwa memuja Tuhan itu juga menguatkan gagasan-gagasan murni untuk mengembangkan sumber daya alam sebagai landasan membangun ekonomi agraris. Ekonomi agraris itu sebagai landasan semua sistem ekonomi. Dengan kuatnya ekonomi agraris itulah manusia baru bisa menuju ekonomi industri, baik berupa barang maupun jasa.

Dengan adanya pemujaan Tuhan sebagai Ratu Manik Maketel dan Ratu Kubakal di Meru Tumpang Sebelas dan Tumpang Sembilan ini berarti dalam sistem beragama Hindu di Bali sudah ada perhatian yang seimbang antara pengembangkan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk kehidupan yang semakin sejahtera lahir batin.

Dengan dharma sebagai landasan filosofi membangun SDM yang berkualitas dan dengan Rta sebagai landasan filosofi menjaga sistem alam yang lestari sepanjang masa. Tanpa dharma dan Rta manusia dan alam akan saling menghancurkan. Tentunya yang akan paling merasakan derita itu adalah manusia itu sendiri. Karena itu marilah makna lebih nyata pemujaan kita pada Tuhan untuk meningkatkan keseimbangan antara gaya hidup kita dengan daya dukung alam demi kelangsungan hidup ini.

sumber @ http://pasektangkas.blogspot.com/

'Krama' Bali Jangan Mau Dibodohi @ Caplok Danau, Bentuk Kejahatan Lingkungan

15.33, Posted by simple, No Comment

'Krama' Bali Jangan Mau Dibodohi
Caplok Danau, Bentuk Kejahatan Lingkungan
Denpasar (Bali Post)
Keluarnya izin prinsip dari Bupati Buleleng Bagiada untuk pengelolaan Danau Buyan sangat disesalkan oleh Ketua Komisi III DPRD Bali Drs. Wayan Gunawan. 'Itu artinya sama dengan menghancurkan Bali,' katanya, Senin (19/1).

Jika izin itu dijadikan alasan pejabat atasan untuk mengeluarkan izin berarti mereka sama-sama bersekongkol menghancurkan Bali. Termasuk Menteri Kehutanan kalau sampai mengeluarkan izin pemanfaatan hutan di kawasan danau 60 hektar itu sama dengan menghancurkan Bali.

Sementara itu, anggota Komisi IV DPRD Bali Si Ketut Mandiranatha, S.H. mengharapkan PHDI Bali berani tegas menolak investor yang berinvestasi di kawasan suci Danau Buyan, karena melanggar bhisama kesucian pura. Masyarakat Bali diharapkan hati-hati terhadap penjarahan kawasan suci, lebih-lebih kapitalis bermodal besar yang bekerja sama dengan pengambil kebijakan.

Ketua Komisi I Made Arjaya mengharapkan berbagai pihak untuk tidak melakukan kebohongan publik terkait proyek Danau Buyan. Untuk itu pihaknya akan segera turun untuk mengecek perizinan ke lapangan. Hal serupa juga dinyatakan anggota Komisi I DPRD Bali Drs. Dewa Badra. 'Kita harus berani menolak kalau sampai investor melakukan pembohongan publik, jangan-jangan pertanian organik yang melibatkan petani hanya kamuflase untuk menarik simpati,' katanya.

Gunawan menyarankan Dewan tak perlu turun ke lapangan. Jika Dewan ikut turun sama saja dengan menyetujui keinginan Gubernur Bali mengkaji proyek tersebut. Mengkaji proyek di kawasan suci sama saja dengan memberikan peluang investor untuk menghancurkan Bali.



Dibodohi



Penentangan terhadap rencana investasi dengan efek perubahan struktur alam di Danau Buyan juga datang dari Ketua Umum Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Drs. I Nyoman Kadia, Selasa (20/1) kemarin. Ia menilai investor telah menggunakan istilah ekowisata dan pariwisata budaya sebagai media untuk menutupi kepentingan investasinya. 'Ekowisata bukan berarti mencaplok kawasan hulu. Ekowisata harus dibangun dengan akses alami sesuai kondratnya, bukan dikondisikan secara vulgar oleh kekuatan modal dan ambisi manusia,' kritiknya.

Kandia mengingatkan bahwa pertemuan para pramuwisata dunia di Bali telah merekomendasikan keputusan untuk menentang dan memboikot program pengembangan infrastruktur kawasan wisata yang memperkosa alam. 'Konsep ekowisata jangan disalahartikan. Selaku orang Bali yang berkecimpung di dunia pariwisata, saya terlalu sering mendapat protes dan keluhan bahwa alam Bali sudah hancur. Biarkan kawasan hulu Bali yang menjadi kawasan resapan air bebas dari kepentingan investasi. Krama Bali jangan mau dibodohi dengan janji-janji keuntungan investasi, padahal efeknya bagi keseimbangan ekosistem lingkungan jauh lebih mahal,' tegasnya.

Kandia meminta pengambil keputusan mendengar aspirasi publik, bukan malah tergiur oleh bayangan keuntungan dan peluang kongkalikong. Kandia juga menentang investasi fisik ke kawasan hulu, terlebih merupakan kawasan suci umat Hindu. 'Pariwisata jangan selalu dikaitkan dengan infrastruktur fisik. Alam Bali sudah sangat menderita oleh serbuan fisik dengan dalih pariwisata berbasis lingkungan. Politisasi istilah pariwisata lingkungan dan berbudaya yang diterjemahkan dengan pembangunan di tepi jurang, mencaplok kawasan hutan lindung termasuk danau, patut dikategorikan sebagai bentuk kejahatan terhadap lingkungan,' tegasnya.

Komisaris PT Anantara Lila Sukotjo dihubungi per telepon Senin (19/1) menyatakan bahwa izin prinsip yang dikeluarkan Bupati Bagiada bukan untuk panggung terapung di Danau Buyan, tetapi izin prinsip terkait rencana mengelola dan mengembangkan kawasan Danau Buyan. 'Kami belum mengantongi izin Menteri Kehutanan (Menhut) untuk memanfaatkan lahan hutan 60 hektar di kawasan Danau Buyan,' tegasnya.

Lila Sukotjo membenarkan sesuai Perda 3 Tahun 2005 kawasan Danau Buyan termasuk kawasan suci bagi umat Hindu. Namun dalam perda tersebut tak ada ditegaskan bahwa di kawasan suci tersebut dilarang dimanfaatkan untuk hiburan. Hanya dalam pemanfaatan di kawasan suci tersebut harus diperhatikan daerah resapannya. 'Kami sepakat menjaga kesucian Danau Buyan dengan membersihkan danau dan limbah domestik, termasuk menormalisasi danau tersebut,' katanya. (029/044)

sumber @ http://www.balipost.com/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=10152